[BAB 1] FUNGSI MENTAL DAN ALIRAN PSIKOLOGI: SEJARAH DAN ALIRAN PSIKOLOGI


FUNGSI MENTAL DAN ALIRAN PSIKOLOGI

“SEJARAH DAN ALIRAN PSIKOLOGI”

photo

DISUSUN OLEH

SYATI’UL INAYAH

1511600035

JURUSAN PSIKOLOGI

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS SURABAYA

SEPTEMBER 2016

(Because sharing is caring)

Sejarah dan Aliran-Aliran dalam Psikologi.

Psikologi berasal dari kata Yunani, yaitu: psyche (jiwa) dan logos (ilmu). Jadi, psikologi berarti ilmu jiwa. Namun, karena jiwa mustahil untuk diteliti, banyak orang yang akhirnya menyimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia karena perilaku merupakan cerminan dari jiwa seserang. Banyak para ahli yang mendefinisikan psikolgi sesuai dengan minat dan aliran masing-masing.

Para filusuf Yunani Kuno sejak 500-600 tahun SM sudah mempelajari gejala-gejala kejiwaan. Salah satunya adalah Thales (624-548) yang dianggap sebagai bapak filsafat. Menurutnya, jiwa adalah sesuatu yang supranatural. Jadi, jiwa itu tidak ada sehingga yang muncul hanyalah gejala alam (natural phenomena) dan semua gejala alam berasal dari air.

Sedangkan Hipokrates (460-375 SM) yang juga dikenal sebagai Bapak Ilmu Kedokteran beranggapan bahwa jiwa manusia dapat digolongkan ke dalam empat tipe kepribadian berdasarkan cairan tubuh yang dominan yaitu yang sekarang kita kenal sebagai: (1) tipe sanguine (riang) yang didominasi oleh darah, (2) tipe melankolis (murung) oleh sumsum hitam, (3) kolerik (cepat bereaksi) oleh sumsum kuning, dan (4) flegmatis (lamban) oleh lendnir.

Tokoh yang paling berpengaruh dalam psikologi selama ratusan tahun kedepan adalah tiga serangki Sokrates (469-399), Plato (427-347 SM), dan Aristoteles (384-322) yang sering disebut dengan trio SPA. Sokrates memperkenalkan teknik meutics, yaitu wawancara untuk memancing keluar pikiran-pikiran dari seseorang. Ia percaya bahwa pikiran-pikiran itu mencerminkan keberadaan jiwa dibalik tubuh manusia.

Pada zaman Renaisan (zaman revolusi ilmu pengetahuan) di Eropa, pada era ini Decrates (1596-1650) mendefinisikan ilmu jiwa (psikologi) adalah ilmu tentang kesadaran. Ia mengemukakakn mottonya yang terkenal “cogito ergo sum” (saya berpikir maka saya ada), karena menurutnya di dunia ini sesuatu tidak ada yang dipastikannya, kecuali pikirannya sendiri. Decrates berpendapat bahwa beberapa pengalaman dibawa sejak manusia dilahirkan.

Sedangkan seorang filusuf Inggris di abad ke-17 John Locke percaya bahwa anak-anak lahir ke dunia dengan pikiran seperti “kertas putih” (tabula rasa dalam bahasa Latin) dan bahwa pengalaman mereka menentukan akan menjadi orang dewasa seperti apa mereka nantinya.

Ilmu disiplin psikologi sendiri berasal dari ilmu filsafat dan fisiologi. Pada 1870, para pelajar dalam kedua bidang tersebut mulai bertanya tanya tentang hubungan antara pikiran dan tubuh. Seorang profesor Jerman bernama Wilhelm Wundt (1832-1920) lah yang pertama kali membuat psikologi sebagai ilmu disiplin yang berdiri sendiri terlepas dari ilmu filsafat dan fisiologi. Beliau telah membuka laboratoriumnya sendiri di Leipzing, Jerman dan bersama teman-temannya mengobservasi pikiran melalui metode introspeksi (menganalisis proses mental sadarnya sendiri).

 

  • Strukturalisme:

 

Paham ini pertamakali dipelopori oleh W. Wundt (1832 – 1920) bersama rekan-rekannya pada tahun 1897 yang mempercayai bahwa jiwa manusia dapat dipelajari melalui analisis pikiran sadar/kesadaran mental yang dimanifestasikan dengan elemen-elemen dasarnya seperti panca indera, emosi dan presepsi yang saling berkaitan. Para pengikut aliran ini mengukur hasil-hasil introspeksi mereka sendiri dengan lingkungan fisik yang sama, stimulus yang sama dan instruksi verbal yang sama seperti diberi benda berwarna hijau terang atau sebuah kalimat yang dicetak diatas sebuah kartu—lalu diminta untuk menggambarkannya dengan kata-kata mereka sendiri. Menurut Wundt, dengan cara itu para psikolog dapat lebih baik memahami struktur dari pikiran. Kemudian aliran ini dinilai terlalu subjektif karena hasilnya tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Karena, introspeksi bukanlah suatu teknik yang sepenuhnya ilmiah karena hanya ada sedikit cara di mana seorang pengamat dar luar dapat mengonfirmasi akurasi dari pikiran orang lain. Terlebih lag, seseorang mengalam kesulitan menggambarkan beberapa macam pengalaman internal, seperti respons-respons emosional. Masalah inilah yang nantinya akan mendorong pendekatan-pendekatan baru, yang akan menggantikan aliran ini. Orang Amerika yang menentang paham ini yakni John B. Watson (1878 – 1958) dan William James (1842 – 1910).

Jika diibaratkan sebgai ilmu bangunan, struktualisme ini mempelajari bagian-bagin dari bangunan itu, seperti lantainya, dindingnya, atapnya dan sebagainya, lalu terbuat dari bahan apakah bangunan tersebut.

 

  • Fungsionalisme:

 

Menentang paham strukutralisme, William James (1842 – 1910) membentuk suatu aliran baru disebut fungsionalisme yang berkonsentrasi pada apa yang dilakukan oleh pikiran dan bagaimana perilaku berfungsi. Para fungsionalis memandang jiwa sebagai cara manusia untuk beradaptasi dengan lingkungannya agar dapat bertahan hidup. Contohnya, seseorang diteliti fungsi emosi rasa takut dan kesepiannya untuk menghadapi situasi-situasi darurat.

Dipimpin oleh James, mereka meneliti bagaimana perilaku membuat seseorang dapat memuaskan kebutuhan mereka dan bagaimana ‘kesadaran’ membuat kita dapat beradaptasi dengan lingkungan kita. Pendidik Amerika John Dewey menerapkan fungsionalisme untuk mengembangkan bidang psikologi sosial; dengan cara mengajukan cara-cara paling tepat untuk memenuhi kebutuhan manusia.

James menggunakan teori evolusi manusia sebagai dasar terbentuknya aliran ini, yaitu bagaimana manusia mengalami perubahan secara bertahap agar dapat bertahan hidup sesuai dengan lingkungannya. Jika diibaratkan sebuah bangunan, fungsionalisme lebih mementingkan untuk apa (fungsi) bangunan tersebut apakah itu tempat tinggal, sekolah atau rumah sakit tanpa melihat elemen dasarnya.

Dengan cara pandang Amerika yang pragmatis (serba praktis) paham fungsionalisme lebih banyak dan cepat berkembang di Amerika Serikat.

 

  • Psikoanalisa:

 

Psikoanalisa atau psikoanalisis yang dipelopori oleh Sigmund Freud (1856 – 1939). Aliran ini mempercayai bahwa perilaku dimotivasi oleh kekuatan dari dalam yang tidak disadari dan tidak dapat dikontrol oleh manusia. Istilah “psikodinamika” sendiri mengacu pada kekuatan-kekuatan aktif dalam kepribadian yang memotivasi perilaku, dan penyebab-penyebab batiniah perilaku (khususnya konflik tak sadar antara struktur-struktur yang berbeda yang menyusun seluruh kepribadian).

Freud mengatakan bahwa banyak perilaku kita ditentukan oleh pikiran, keinginan, ingatan dan lain-lain yang tidak disadari. Jika dianalogikan seperti gunung es, apa yang kita sadari di saat tertentu merepresentasikan puncak gunung es: sebagian besar pikiran dan ide kita tidak dapat diakses pada saat itu preconscious (prasadar), atau sama sekali tidak sadar unconscious (tak sadar).

Ketidaksadaran menurut Freud adalah dorongan-dorongan yang timbul pada masa anak-anak yang karena sesuatu hal dipaksa ditekan atau dilupakan sehingga tidak muncul dalam kesadaran. Ketidaksadaran berisi pikiran-pikiran, ingatan, dan keinginan-keinginan yang tersembunyi namun memiliki pengaruh besar kelak terhadap perilaku individu tersebut.

Freud juga mengatakan bahwa mimpi-mimpi, kesalahan bicara, atau perbuatan-perbuatan yang sepertinya tidak penting dan tidak disadari dapat menggambarkan bagaimana perasaan sebenarnya dari seorang individu.

Banyak perdebatan yang ditimbulkan oleh teori-teori yang dikemukakan oleh Freud, salah satunya adalah bahwa perilaku banyak dipengaruhi oleh bagaimana seseorang mengatasi dorongan seksualnya. Kritik lain yang berulang kali dilontarkan terhadap teori Freud adalah bahwa mereka tidak ilmiah karena tidak dapat difalsifikasi (tidak dapat dibuktikan kesalahannya).

 

  • Behaviourisme:

 

Behaviourisme atau Psikologi S-R pertamakali diperkenalkan oleh John B. Waston (1878 – 1958) dari Amerika Serikat. Para penganut aliran ini membatasi diri dengan mempelajari perilaku yang tampak saja berbeda dengan aliran strukturalisme maupun psikoanalisis. Karena menurutnya, hanya perilaku ini yang dapat diobservasi dan diukur secara objektif. Waston berpegang teguh pada pandangan bahwa seseorang mendapatkan suatu pemahaman yang lengkap tentang perilaku dengan mempelajari dan memodifikasi lingkungan dimana dia hidup. Dia optimis bahwa dimungkinkan untuk menghilangkan perilaku-perilaku bawaan atau genetika seseorang dengan cara mengontrol lingkungannya. Seperti pernyataannya, “Berikan saya dua belas orang bayi yang sehat, tidak cacat dan izinkan saya membawa mereka ke dalam dunia saya dan saya akan memilih salah satu dari mereka secara acak untuk kemudian melatihnya menjadi tipe-tipe spesialis yang dapat saya pilih—dokter, pengacara, artis, pemimpin toko, dan ya, bahkan pengemis dan pencuri terlepas dari talenta, keinginan, tendensi, kemampuan, pekerjaan dan ras dari nenek moyang mereka (Waston, 1924).

Hal ini menimbulkan perdebatan panjang mengenai pertanyaan lama dalam bidang psikologi yaitu apakah perilaku ditentukan oleh nature atau nurture (genetika atau lingkungan). Singkatnya, Waston berpendapat bahwa perilaku sudah selayaknya ditentukan oleh lingkungan mereka tumbuh yang nantinya akan membentuk bagaimana mereka bersikap dan berperilaku bukannya ditentukan oleh genetika bawaan oleh leluhur mereka.

Dalam penelitiannya, Waston lebih mementingkan perilaku terbuka yang dapat diamati dan diukur secara langsung. Emosi gembira dan sedih menurutnya adalah manifestasi dari adanya ketegangan (tarikan) otot-otot dan syaraf-syaraf tertentu. Aliran ini disebut juga sebagai psikologi “S-R” (Stimulus-Respons) karena menurutnya, perilaku selalu dimuali dengan adanya rangsang (stimulus) dan diikuti oleh reaksi (response) terhadap rangsang itu.

Pada aliran ini banyak mempergunakan hewan sebagai objek penelitian mereka. Contohnya yang paling terkenal oleh B.F Skinner (1904 – 1990) pengikut Waston yaitu Skinner Box (kotak Skinner) adalah eksperimental dimana seekor tikus diletakkan dalam sebuah kotak dan diberikan stimulus-stimulus untuk menghasilkan respon yang diinginkan kemudian diobservasi. Dapat disimpulkan bahwa, Skinner berpendapat bahwa perilaku seseorang dikontrol oleh lingkungannya bukan diri mereka sendiri. Singkatnya, menurut Skinner kehendak bebas itu hanyalah sebuah ilusi.

 

  • Humanistik:

 

Terlepas dari pandangan bahwa perilaku ditentukan oleh kekuatan biologis otomatis, proses-proses tidak sadar, ataupun lingkungan, sudut pandang humanistik berpendapat bahwa semua individu secara alami berusaha untuk tumbuh, berkembang, dan tetap terkontol dalam kehidupan maupun perilakunya. Psikolog humanistik percaya bahwa masing-masing dari kita memiliki kapasitas untuk mencari dan mencapai pemenuhan.

Menurut sudut pandang humanistik, manusia berjuang untuk mencapai potensi penuh mereka jika diberikan cukup kesempatan. Jika aliran behaviourisme menentang adanya kehendak bebas, dalam aliran humanistik justru ditekankan pada kemampuan untuk secara bebas mengambil keputusan tentang perilaku dan kehidupannya.

Para penganut humanistik berasumsi bahwa seseorang memiliki kemampuan untuk membuat pilihan mereka sendiri tentang perilaku yang akan mereka munculkan bukan sekadar berdasar pada standar di lingkungan sosial. Dibandingkan dengan aliran lain, pendekatan ini lebih memberikan peran psikologi secara keseluruhan dalam kehidupan seseorang dan membantu mereka mencapai pemenuhan diri. Manusia harus dilihat sebagai totalitas yang unik, yang mengandung semua aspek dalam dirinya dan selalu berproses untuk menjadi dirinya sendiri (aktualisasi diri).

Sehingga, dapat ditarik kesimpulan bahwa pendekatan para psikolog yang menganut aliran ini adalah dengan cara mendorong potensi-potensi yang baik pada diri seseorang dalam proses aktualisasi dirinya.

Tokoh yang sangat berpengaruh terhadap aliran ini adalah Carl Rogers (1902 – 1987) dan Abraham Maslow (1908 – 1970).

 

  • Kognitif:

 

Aliran ini mempelajari dengan pendekatan yang berfokus pada bagaimana orang berpikir, memahami dan mengetahui tentang dunia. Sudut pandang ini berkembang dari pemahaman strukturalisme dan sebagian dari behaviourisme. Penekanannya terletak pada mempelajari bagaimana manusia memahami dunia luar dari dalam diri mereka dan bagaumana cara berpikir kita tentang dunia mempengaruhi perilaku kita.

Dalam pandangan ini, banyak psikolog yang membandingkan manusia dengan sistem kerja komputer dimana tugasnya adalah menerima dan memproses informasi kemudian mengubah, menyimpan kemudian memanggilnya kembali. Dalam pandangannya, berpikir adalah memproses informasi.

Elemen umum yang menautkan pendekatan-pendekatan kognitif adalah penekanan pada bagaimana seseorang memahami dan memikirkan tentang dunia dan suatu ketertarikan untuk menggambarkan pola dan ketidakteraturan cara kerja pikiran kita.

Jadi, dapat disimpulkan dalam tabel berikut adalah perbedaan aliran-aliran dalam psikologi:

Strukturalisme Fungsionalisme Psikoanalisa Behaviourisme Humanistik Kognitif
Pelopor William Wundt (1832 – 1920) William James (1842 – 1910) Sigmund Freud (1856 – 1939) John B. Waston (1878 – 1958) Carl Rogers (1902 – 1987) Jean Piaget (1896 – 1980)
Sudut pandang Memandang perilaku dari sudut pandang biologis. Memandang perilaku dari peran mereka terhadap lingkungan. Percaya bahwa perilaku dimotivasi oleh kekuatan alam bawah sadar yang tidak disadari atau dikontrol. Berfokus pada perilaku yang dapat diobservasi. Yakin bahwa manusia dapat mengontrol perilaku mereka sendiri dan beruasaha untuk mencapai potensi-potensi mereka. Meneliti cara manusia memahami dan memikirkan tentang dunia.
Dasar Pemikiran Elemen-elemen dasar/struktur yang membentuk jiwa (presepsi, emosi, penginderaan) Bagaimana perilaku berfungsi. Pikiran-pikiran bawah sadar manusia (mimpi-mimpi, memori, kesalahan bicara) Respon manusia terhadap lingkungannya akibat rangsangan (Stimulus-Respon) Kehendak bebas manusia, dengan mengembangkan potensi yang mereka miliki. Proses pemikiran manusia tentang penalaran, mengingat, berpikir dan memproses informasi.

Daftar Pustaka:

Feldman, Robert S. (2012). Pengantar Psikologi. Jakarta: Salemba Humanika.

Gross, Richard (2012). Psikologi: Ilmu Jiwa dan Perilaku (Edisi keenam).Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sarwono, Sarlito W. (2014). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Press.

Waiten, Wayne. (2007). Psychology Themes & Variations Eight Edition. USA: Wadsworth Cengage Learning.

Advertisements

Tunjukkan gigimu.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s