[BAB 5] PSIKOLOGI PERKEMBANGAN MASA LANJUT USIA


lifespan_logo_final_2x

“PSIKOLOGI PERKEMBANGAN MASA LANJUT USIA”

DISUSUN OLEH

SYATI’UL INAYAH

1511600035

JURUSAN PSIKOLOGI

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS SURABAYA

NOVEMBER 2016

(Because sharing is caring)

  • Masa Tua (Lanjut Usia)

Usia tua adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang, yaitu suatu periode di mana seseorang telah “beranjak jauh” dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan atau beranjak dari waktu yang penuh dengan manfaat (Hurlock, 1980).

Sementara itu Santrock dalam bukunya Life Span Development membangi masa Tua menjadi tiga tahapan yaitu masa tua awal, masa tua menengah dan masa tua akhir. Menurut batasan usia kronologis, tua awal terletak antara usia 65 hingga 74 tahun, tua menengah adalah 75 tahun ke atas, sementara tua akhir adalah 85 tahun ke atas.

Masa dewasa akhir paling tepat dipandang sebagai perpanjangan, bukan terpisah, dari periode sebelumnya.Selama konteks sosial dan budaya memberikan para lansia dukungan, penghargaan, dan arah hidup, tahun-tahun ini bisa menjadi masa bagi keberlanjutan potensi (Berk, 2010).

Ciri-ciri Masa Lanjut Usia menurut Hurlock adalah:

Usia Lanjut Merupakan Periode Kemunduran

Pada masa ini seseorang tidak lagi bersifat evolusional, akan tetapi mereka mulai mengalami kemunduran bertahap yang disebut dengan ‘menua’. Perubahan tersebut meliputi fisik, mental maupun psikologisnya.

Penyebab kemunduran fisik ini dikarenakan adanya perubahan ada sel-sel tubuh. Sementara perubahan psikologisnya terjadi karena munculnya sikap tidak senang terhadap diri sendiri, orang lain, pekerjaan an kehiudpan yang pada umumnya terjadi pada masa uzur.

Adanya Perbedaan Individual Pada Evek Menua

Dewasa ini banyak terjadi anggapan bahwa menua itu mempengaruhi orang-orang secara berbeda. Orang menjadi tua secara berbeda karena mereka mempunyai sifat bawaan yang berbeda, sosioekonomi dan latar pendidikan yang berbeda, dan pola hidup yang berbeda.

Usia Tua Dinilai dengan Kriteria yang Berbeda

Karena arti tua itu sendiri kabur dan tidak jelas dan tidak dapat dibatasi pada anak muda, maka orang cenderung menilai tua itu dalam hal penampilan dan kegiatan fisik. Bagi usia tua, anak-anak adalah lebih kecil dibandingkan dengan orang dewasa dan harus dirawat, sedang orang dewasa adalah sudah besar dan dapat merawat diri sendiri. Orangtua mempunyai rambut putih dan tidak lama lagi berhenti dari pekerjaan sehari-hari.

Berbagai Stereotipe Orang Lanjut Usia

Banyak pendapat klise tentang usia lanjut yang tersebar di masyarakat luas. Mereka menilai masa tua adalah pria dan wanita yang keadaan fisik dan mentalnya loyo, using, sering pikun, jalannya membungkuk dan sulit hidup bersama siapapun, karena hari-harinya yang penuh manfaat telah lewat sehingga perlu dijauhkan dari orang-orang yang lebih muda. Pendapat tidak menyenangkan ini tampaknya membuat masyarakat sulit untuk melihat usia lanjut sebagai segalanya melainkan lebih merupakan hal yang negatif dalam kehidupan. Hal itu akan membentuk konsep diri yang negative pada seseorang yang memasuki usia lanjut.

Sikap Sosial Terhadap Usia Lanjut

Pendapat klise tentang usia lanjut mempunyai pengaruh yang besar terhadap sikap sosial baik terhadap usia lanjut maupun terhadap orang yang berusia lanjut. Arti penting tentang sikap sosial terhadap usia lanjut yang tidak menyenangkan mempengarhi cara mereka memperlakukan orang usia lanjut. Sebagai pengganti penghormatan dan penghargaan terhadap orang usia lanjut, dan sebagai ciri-ciri banyak kebudayaan, sikap sosial di Negara-negara Barat mengakibatkan orang usia lanjut merasa bahwa mereka tidak lagi bermanfaat bagi kelompok sosial dan dengan demikian maka lebih banyak menyusahkan daripada sikap yang menyenangkan. Sementara orang-orang yang berasal dari Negara yang menghargai usia lanjut, akan terbiasa memperlakukan orang usia lanjut dnegna lebih menyenangkan dan lebih hormat dibanding mereka yang tinggal di Negara-negara yang kurang menghargai usia Lanjut.

Orang Usia Lanjut Mempunyai Status Kelompok-Minoritas

Status kelompok minoritas ini terjadi sebagai akibat dari sikap sosial yang tidak menyenangkan terhadap orang usia lanjut dan diperkuat oleh pendapat klise yang tidak menyenangkan tentang mereka. Oleh karena itu, kelompok orang usia lanjut disebut sebagai ‘warga Negara kelas dua’ yang hidup dengan status bertahan dan mempunyai efek penting terhadap pribadi dan penyesuaian sosial mereka. Hal ini mengakibatkan tahun-tahun akhir hidupnya terasa pahit. Hal ini pula menyebabkan mereka merasa menjadi korban beberapa anggota dari kelompok mayoritas.

Menua Membutuhkan Perubaha Peran

Dewasa ini, di mana efisiensi, kekuatan, kecepatan dan kemenarikan bentuk fisik sangat dihargai, mengakibatkan orang berusia lanjut sering dianggap tidak ada gunanya lagi. Hal ini mengakibatkan pengurangan jumlah kegiatan yang dapat dilakukan oleh orang usia lanjut, dan karenanya perlu mengubah beberapa peran yang masih dilakkan. Perubahan peran seperti ini sebaiknya dilakukan atas dasar keinginan seseorang, jadi bukan atas dasar tekanan yang datang dari kelompok sosial. Tetapi pada kenyataan pengurangan dan perubahan peran ini banyak terjadi karena tekanan sosial.

Penyesuaian yang Buruk Merupakan Ciri-ciri Usia Lanjut

Semakin hilangnya status karena kegiatan sosial didominasi oleh orang-orang yang elbih muda, keinginan untuk melindungi keuangan mereka untuk istrinya, dan keinginan untuk menghindari beberapa rasa sakit atau keadaan yang tak berdaya menyebabkan orang-orang pada Usia Lanjut cenderung buruk dalam menyesuaikan diri. Sikap sosial yang tidak menyenangkan bagi orang usia lanjut juga menyebabkan mereka menciptakan konsep diri yang buruk juga.

Keinginan Menjadi Muda Kembali Sangat Kuat pada Usia Lanjut

Status kelompok minoritas yang dikenakan pada orang berusia lanjut secara alami telah membangkitkan keinginan untuk tetap muda selama mungkin dan ingin dipermuda apabila tanda-tanda menua mulai tampak. Walaupun demikian, beberapa percobaan yang dilakukan dewasa ini menunjukkan bahwa tidak mungkin untuk membuat orang yang sudah tua menjadi muda lagi.

 

  • Teori Sosial Tentang Penuaan
  • Teori Pelepasan Diri

Menurut Teori Pelepasan Diri (disengagementtheory) adalah sikap memisahkan diri lansia dari masyarakat terjadi ketika mengantisipasi kematian (Cumming & Henry, 1961). Pada masa ini orang usia tua mengurangi tingkat aktivitas mereka, mengurangi peran dan tanggung jawab di masyarakat. Mereka akan lebih disibukkan dengan kehidupan batin mereka. Para lansia akan dikatakan lebih bahagia apabila kontak sosial telah berkurang dan tanggung jawab telah diambil oleh generasi yang lebih muda. Namun tidak semua orang lanjut usia memisahkan diri dari masyarakat, faktanya banyak dari mereka yang masih mempertahankan hubungan memuaskan dan meninggalkan yang sebaliknya. Terkadang, mereka bahkan tetap melakukan hubungan kurang memuaskan hanya agar tetap terlibat dalam lingkungannya.

  • Teori Aktivitas

Teori aktivitas (activity theory) mengatakan bahwa halangan sosial terhadap keterlibatan, bukan keinginan lansia, menjadi penyebab menurunnya tingkat interaksi. Ketika orang usia tua kehilangan peran tertentu (misalnya karena pensiun, atau menjanda), mereka berusaha menemukan orang lain agar tetap bisa aktif dan sibuk ketika seperti halnya mereka berada di usia paruh baya.Menurut pandangan ini, kepuasan hidup lansia bergantung pada kondisi yang memungkinkan mereka tetap terlibat dalam peran dan hubungan.(Steve, 1963).

Masalah utama dalam teori ini adalah, temuan berulang bahwa ketika status kesehatan dikendalikan, para lansia yang memiliki jejaring sosial luas dan terlibat dalam banyak aktivitas belum tentu lebih bahagia (Lee & Markides, 1990; Ritchey, & Dietz, 2001).

 

  • Pola-pola Kepribadian pada Usia Lanjut

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan baru-baru ini, ditemukan beberapa dari lima faktor esar kepribadian terus berubah di masa dewasa akhir. Sebagai contoh, dalam sebuah studi, sikap kehati-hatian terus berlanjut di masa dewasa akhir (Roberts, Walton & Bogg, 2005), dan dalam studi lainnya orang dewasa lanjut usia bersikap lebih hati-hati dan ramah dibandingkan orang dewasa muda dan paruh baya (Allemand, Zimprich & Hendriks, 2008).

Sebuah studi longitudinal mengungkapkan bahwa Lima Faktor Besar kepribadian dari kehati-hatian dan keterbukaan yang tinggi terkait dengan risiko kematian yang lebih tinggi (Iwasa dkk, 2008).

Lima Faktor Besar Kepribadian menjelaskan masing-masing subsifat yang luas mengandung sifat dan karakteristik yang lebih simpit.

Openness (Keterbukaan)

·         Imajinatif atau praktikal

·         Minat terhadap variasi rutin

·         Independen atau konform

Conscientiousness  (Kehati-hatian)

·         Terorganisasi atau tidak terorganisasi

·         Hati-hati atau ceroboh

·         Disiplin atau impulsif

Extraversion (Perhatian pada dunia luar)

·         Suka bergaul atau malu-malu

·         Mencintai kesenangan atau muram.

·         Penuh perasaan atau pendiam

Aggreableness (Keramahan)

·         Lembut atau kasar

·         Percaya atau curiga

·         Penolong atau tidak kooperatif

 

Neuroticism (Stabilitas Emosi)

·         Kalem atau cemas

·         Aman atau tidak aman

·         Puas diri atau mengasihani diri.

 

  • Teori kepribadian Erikson : Integritas Ego vs Putus Asa

Teori ini melibatkan berdamai dengan kehidupan diri sendiri.Orang dewasa yang memiliki rasa integritas merasa ikhlas, lengkat dan puas dengan pencapaian mereka.Mereka telah terbiasa dengan gabungan antara kejayaan dan kekecewaan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari hubungan cinta, pengasuhan anak, pekerjaan, pertemanan dan partisipasi komunitas.Mereka sadar jalan yang mereka tempuh, tinggalkan, dan tidak pernah mereka pilih penting untuk membangung sebuah arah hidup penuh makna.

Dalam sebuah penelitian yang megikuti sebuah sampel perempuan dari beragam SES sepanjang masa dewasam generativitas paruh baya memprediksikan integritas ego di masa dewasa akhir. Integritas ego pada gilirannya berkaitan dengan keseejahteraan psikologis yang lebih baik—jiwa lebih optimis, penerimaan diri lebih besar, kepuasan pernikahan lebih tinggi, hubungan lebih dekat dengan anak dewasa, keterlibatan lebih besar dalam komunitas, dan lebih mau menerima bantuan orang lain saat butuh (James & Zarrett, 2007).

Putus asa yang merupakan hasil negative dari tahap ini, terjadi bila lansia merasa telah banyak membuat keputusan keliru, padahal waktu ini terlalu singkat untuk menemukan jalur alternatif menuju integritas.Tanpa memiliki banyak kesempatan, pribadi putus asa merasa sulit menerima bahwa kematian sudah dekat dan tenggelam dengan kepedihan, kesalahan dan putus asa.

 

  • Peran Sosial pada Masa Lanjut Usia

Seiring bertambahnya usia mengakibatkan banyak orang yang merasa menderita karena jumlah kegiatan sosial yang dilakukannya semakin berkurang. Berhentinya seseorang dari kegiatan sosial bisa terjadi secara sukarela atau terpaksa. Walaupun demikian, ada sumber dalam masyarakat yang berbeda, yang dapat dimanfaatkan oleh orang usia lanjut untuk melakukan kontak sosial di masa tuanya, yang secara garis besar dibedakan menjadi tiga macam sumber yang sangat dipengaruhi oleh usia lanjut (Hurlock, 1980).

Sumber Kontak Sosial yang Dipengaruhi Usia

 

Persahabatan Pribadi yang Akrab

Persahabatan pribadi yang akrab dengan para anggota dari kelompok jenis kelamin yang sama (pria dengan pria atau wanita dengan wanita), yang dibina ulang sejak masa dewasa atau pada awal tahun pernikahannya, sering terhenti apabila salah satunya mati, atau pindah tempat tinggal sehingga menjadi jauh; dalam hal seperti ini tampaknya orang usia lanjut tidak mampu lagi untuk menetapkan jenis persahabatan lain yang semacam itu.

 

Kelompok Persahabatan

Kelompok semacam ini terbentuk dari pasangan-pasangan yang bersatu, yang dibentuk pada waktu mereka masih muda karena mereka mempunyai minat dan kesenangan yang serupa secara timbal balik. Minat dan kesenangan ini antara lain bisa berasal dari perkumpulan usaha para suami atau karena para istri dengan keluarga yang mempunyai keinginan timbal balik yang sama, atau dalam bentuk organisasi masyarakat. Pada saat para pria mulai pensiun serta kegiatan para wanita dalam rumah tangga dan masyarakat mulai berkurang, anggota kelompok persahabatan juga berkurang dan secara bertahap mulai menghilang.

 

Kelompok atau Perkumpulan Formal

Apabila peranan kepemimpinan dalam kelompok atau perkumpulan formal diambil alih oleh anggota yang lebih muda dan apabila perencanaan kegiatan terutama berorientasi pada minat mereka yang lebih muda itu, orang usia lanjut merasa tidak diperlukan lagi dalam organisasi semacam ini dan menghentikan keanggotaan mereka dalam perkumpulan tersebut.

 

Dengan semakin bertambahnya usia seseorang, maka partisipasi sosialnya juga semakin berkurang dan cakupannya juga menyempit. Terdapat banyak alasan mengapa partisipasi seseorang pada kegiatan sosial menurun sejalan dengan bertambahya usia. Pertama, adalah alasan kesehatan menurun. Kedua adalah tingkat keterlibatan dalam kegiatan sosial pada usia muda. Aktivitas ini sangat mempengaruhi patisipasinya pada usia lanjut. Studi tentang partisipasi sosial pada berbagai tingkat usia yang berbeda menunjukkan bahwa mereka yang aktif pada masa dewasa akan akitf pula pada usia tua, kecuali jika memiliki hambatan yang tidak memungkinkan untuk melakukan partisipasi.

  • Ukuran Kepuasan Hidup Pada Masa Lanjut Usia

Kepuasan merupakan kondisi subyektif dari keadaan prbadi seseorang sehubungan dengan perasaan senang atau tidak senang sebagai akibat dari adanya dorongan atau kebutuhan yang ada pada dirinya dan dihubungkan dengan kenyataan yang dirasakan.Kepuasan hidup merupakan kemampuan seseorang untuk menikmati pengalaman-pengalaman yang disertai dengan tingkat kegembriaan.

Menurut Hurlock ada beberapa faktor yang relative penting untuk menunjang kepuasan hidup, yaitu:

FAKTOR-FAKTOR YANG MENUNJANG KEPUASAN HIDUP
1.      Kesehatan Apabila kesehatan seseorang baik, maka seseorang akan dapat melakukan apapun yang dia inginkan hal itu sangat berpengaruh pada kepuasan hidup seseorang. Begitu pula sebaliknya.
2.      Daya Tarik Fisik Hal ini juga merupakan faktor penentu diterima atau tidaknya seseorang dalam masyarakat. Seseorang dengan daya tarik fisik yang tinggi akan mendapat tepat dan mempermudah apa yang ingin dicapai oleh seseorang.
3.      Tingkat Otonomi Semakin besar otonomi yang dicapai, semakin besar kesempatan untuk merasa bahagia.
4.      Kesempatan berinteraksi di luar keluarga Semakin populer seseorang, maka semakin tinggi nilai sosial yang mereka miliki, terlepas dari usia berapapun. Apabila mereka memiliki hubungan sosial dengan masyarakat sekitar, maka lansia tersebut akan mendapat lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungannya.
5.      Jenis Pekerjaan Semakin rutin sifat pekerjaan dan semakin sedikit kesempatan otonomi dalam pekerjaan yang dilakukan, maka semakin menurunlah tingkat kepuasan seseorang.
6.      Status Kerja Semakin berhasil seseorang melaksanakan tugas, semakin besar prestise yang di dapat oleh seseorang. Hal itu akan menimbulakan kepuasan yang sangat besar pula.
7.      Kondisi Kehidupan Semakin baik pola kehiudupan yang dijalani seseorang, misal cara berinteraksi dengan orang lain (keluarga maupun di luar keluarga), maka semakin memperbesar kepuasan hidup orang tersebut
8.      Kepemilikan Harta Benda Dengan memiliki harta benda, maka seseorang akan merasa tercukupi kebutuhannya. Dengan itu, seseorang akan cenderung merasa puas.
9.      Keseimbangan antara Harapan dan Pencapaian Semakin seimbang antara harapan dan pencapaian seseorang, maka semakin puas juga orang tersebut. Misalnya jika tujuan yang diinginkan tercapai, maka kebahagiaan juga akan didapatkan.
10.  Penyesuaian Emosional Apabila seseorang dapat menyesuaikan diri dengan baik, tidak secara terus menerus menampakkan emosi negative, maka seseorang akan lebih diterima oleh lingkungannya.
11.  Sikap terhadap Periode Usia Tertentu

 

Perasaan bahagia yang akan dialami pada usia tertentu sebagian ditentukan oleh pengalaman-pengalaman pribadi bersama orang lain.
12.  Realism dari Konsep Diri Semakin realistis konsep diri yang dimiliki seseorang, maka semakin puaslah orang tersebut. Karena, apabila apa yang diinginkan tidak tercapai, maka mereka akan cenderung merasa tidak bahagia
13.  Realisme dari Konsep Peran Seseorang akan cenderung memerankan sosok yang diinginkan pada usia mendatang. Apabila peran tersebut tidak sesuai denga apa yang diharapkan, maka mereka akan merasa tidak bahagia.

 

  • Penyesuaian Diri Terhadap Masa Pensiun

Schwartz berkata bahwa pensiun dapat merupakan akhir pola hidup atau masa transisi ke pola hidup baru.Pensiun selalu menyangkut perubahan keinginan dan nilai, dan perubahan secara keseluruhan terhadap pola hidup setiap individu.

Menurut Hurlock, ada beberapa kondisi yang mempengaruhi penyesuaian terhadap masa pensiun:

·         Para pekerja yang pensiun secara sukarela akan menyesuaikan diri lebih baik dibandingkan dorongan mereka yang merasa pensiun dengan terpaksa terutama bagi mereka yang masih ingin melanjutkan bekerja.

·         Kesehatan yang buruk pada waktu pensiun memudahkan penyesuaian sedangkan orang sehat mungkin cenderung melawan untuk melakukan penyesuaian diri.

·         Banyak pekerja yang merasa bahwa berhenti dari pekerjaan secara bertahap ternyata lebih baik efeknya dibandingkan dengan mereka yang tiba-tiba berhenti dari kebiasaan bekerja karena mereka tidak bisa mengatur persiapan pola hidup tanpa pekerjaan

·         Bimibingan dan perencanaan prapensiun akan membantu penyesuaian diri.

·         Pekerja yang mengembangkan minat tertentu guna menggantikan aktivitas kerja rutin, yang sangat bermanfaat bagi mereka, dan menghasilkan kepuasan yang dulu diperoleh dari pekerjaannya, tidak akan menemukan masalah penyesuaian terhadap masa pensiun, yang secara emosional membingungkan mereka yang terbata-bata mengembangkan minat pengganti.

·         Kontak sosial, sebagaimana diketemukan dalam rumah-rumah jompo, membantu mereka dalam penyesuaian diri terhadap masa pensiun. Baik tinggal dalam rumah mereka sendiri, atau di rumah anak yang sudah menikah atau anggota keluarga lainnya, menyebabkan orang pensiunan memutuskan untuk melakukan kontak sosial.

·         Semakin sedikit perubahan yang harus dilakukan terhadap kehidupan semasa pensiun semakin baik penyesuaian dapat dilakukan.

·         Status ekonomi yang baik, yang memungkinkan seseorang untuk hidup dengan nyaman dan dapat menikmati yang menyenangkan, adalah penting untuk penyesuaian yang baik pada masa pensiun.

·         Status perkawinan yang bahagia sangat membantu penyesuaian diri terhadap masa pensiun sedangkan perkawinan yang banyak diwarnai percekcokan cenderung menghambat.

·         Semakin para pekerja menyukai pekerjaan mereka, semakin buruk penyesuaian terhadap pensiun. Terdapat hubungan yang bertolak belakang antara kepuasan kerja dengan kepuasan pensiun.

·         Tempat tinggal seseorang mempengaruhi penyesuaian terhadap masa pensiun. Semakin besar masyarakat menawarkan berbagai kekompakan dan kegiatan bagi orang usia lanjut, semakin lebih baik menyesuaikan terhadap masa pensiun.

·         Sikap anggota keluarga terhadap masa pensiun mempunyai pengaruh yang amat besar terhadap sikap pekerja, terutama sikap terhadap pasangan hidupnya.

*

Daftar Pustaka:

Alwisol.(2009). Psikologi Kepribadian.Malang: UMM Press.

Berk, Laura E. (2010).Development Through the Lifespan (Edisi kelima: Dari Dewasa Awal Sampai Menjelang Ajal). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hurlock, Elizabeth B. (1980). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

Santrock, John W. (2011). Life-Span Developement (Perkembangan Masa Hidup).Jakarta: Erlangga.

 

 

Advertisements

Tunjukkan gigimu.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s