[BAB 4] PSIKOLOGI PERKEMBANGAN MASA DEWASA AWAL & MADYA


lifespan_logo_final_2x

“PSIKOLOGI PERKEMBANGAN MASA DEWASA AWAL & MADYA”

DISUSUN OLEH

SYATI’UL INAYAH

1511600035

JURUSAN PSIKOLOGI

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS SURABAYA

NOVEMBER 2016

(Because sharing is caring)

  • Masa Dewasa

Dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya (Hurlock, 1980).

Masa beranjak dewasa (dewasa awal) emerging adulthood adalah sebuah istilah yang kini digunakan untuk merujuk masa transisi dari remaja menuju dewasa. Rentang usia masa ini berkisar antara 18 hingga 25 tahun; masa ini ditandai oleh kegiatan bersifat ekspreimen dan eksplorasi. Transisi dari masa remaja menuju masa dewasa diwarnai dengan perubahan yang berkesinambungan (Santrock, 2011).

Masa dewasa menengah (madya) adalah masa di mana terjadi penurunan kemampuan fisik dan meluasnya tanggung jawab; sebuah periode di mana seseorang menjadi lebih sadar mengenai polaritas usia muda dan berkurangnya jumlah waktu yang masih tersisa di dalam hidup; suatu titik di mana seseoang berusaha meneruskan sesuatu yang bermakna kepada generasi selanjutnya; suatu masa di mana seseorang telah mencapai dan membina kepuasan dalam kariernya. Singkatnya, masa dewasa menengah mencakup “keseimbangan antara pekerjaan dan tanggung jawab relasi di tengah-tengah perubahan fisik dan psikologis yang berlangsung seiring dengan proses penuaan” (Lanchman, 2004, hal 305).

Sementara itu, Hurlock membagi masa dewasa ini menjadi tiga tahapan;

Pembagian Masa Dewasa

o   Masa Dewasa Dini

Masa dewasa dini dimulai pada umur 18 tahun sampai kira-kira umur 40 tahun. Saat perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif.

o   Masa Dewasa Madya

Masa dewasa madya dimulai pada umur 40 tahun sampai pada umur 60 tahun, yakni saat baik menurunnya kemampuan fisik dan psikologis yang jelas Nampak pada setiap orang.

o   Masa Dewasa Lanjut (Usia Lanjut)

Masa dewasa lanjut—senescence, atau usia lanjut dimulai pada umur 60 tahun sampai kematian. Pada waktu ini baik kemampuan fisik maupun psikologis cepat menurun, tetapi teknik pengobatan modern, serta upaya dalam hal berpakaian dan dandanan, memungkinkan pria dan wanita berpenampilan, bertindak dan berperasaan seperti kala mereka masih lebih muda.

 

Ciri-ciri Masa Dewasa menurut Hurlock adalah:

Masa Dewasa Dini Masa Dewasa Madya
      Sebagai Masa Pengaturan

Pada masa ini, seorang individu akan mencoba dan memilih peran apa yang akan mereka mainkan dalam hidup mereka. Sekali seseorang menemukan pola hidup yang diyakininya dapat memenuhi kebutuhannya, ia akan mengembangkan pola-pola perilaku sikap dan nilai-nilai yang cenderung akan menjadi kekhasan selama sisa hidupnya.

      Merupakan Periode yang Sangat Ditakuti

Semakin mendekati usia tua, periode usia madya semakin terasa menakutkan dilihat dari seluruh kehidupan manusia. Hal itu disebabkan oleh banyaknya sterotip yang tidak menyenangkan tentang usia madya, yaitu kepercayaan tradisional tentang kerusakan mental dan fisik yang diduga disertai dengan berhentinya reproduksi.

      Sebagai Usia Reproduktif

Seseorang berada dalam puncak kesiapan secara fisik untuk bereproduksi, termasuk membangun rumah tangga dan membentuk keturunan.

      Merupakan Masa Transisi

Transisi senatiasa berarti penyesuaian diri terhadap minat, nilai dan pola perilaku yang baru. Dewasa harus melakukan penyesuaian diri terhadap berbagai perubahan jasmani dan harus menyadari bahwa pola perilaku pada usia mudanya harus diperbaiki secara radikal. Penyesuaian untuk mengubah peranan bahkan lebih sulit daripada penyesuaian untuk mengubah kondisi jasmani dan minat. Setiap perubahan peran penting mungkin mengakibatkan suatu krisis kekerasan yang besar atau kecil. Menurut Kimmel, tiga bentuk krisis pengembangan yang umum dan hampir universal; pertama krisis sebagai masa orangtua. Kedua, krisis yang timul karena orangtua berusia lanjut. Ketiga, krisis yang berhubungan dengan kematian khususnya oada suami-isteri.

      Sebagai Masa Bermasalah

Dalam tahun-tahun awal masa dewasa banyak masalah baru yang harus dihadapi seseorang. Kebebasan baru yang diperoleh seseorang pada masa ini akan menimbulkan masalah-masalah yang tidak dapat diramalkan. Penyesuaian diri terhadap masalahmasalah masa dewasa dini menjadi lebih intensif dengan di perpendeknya masa remaja (menjadi 18 tahun pada 1970 setelah sebelumnya 21 tahun), sebab masa transisi untuk menjadi dewasa menjadi sangat pendek sehingga anak-anak muda hampir tidak mempunyai waktu untuk membuat peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.

      Adalah Masa Stress

Penyesuaian secara radikal terhadap peran dan pola hidup yang berubah, khususnya bila disertai dengan berbagai perubahan fisik, selalu cenderung merusak homeostatis fisik dan psikologis seseorang dan membawa ke masa stress, suatu masa bila sejumlah penyesuaian pokok yang harus dilakukan di rumah, bisnis dan aspek sosial kehidupan mereka. Sumber-sumber umum dari stress menurut Marmor; Stres Somatik, yang disebabkan oleh keadaan jasmani yang menunjukkan usia tua. Stres budaya, yang berasal dari penempatan nilai yang tinggi pada kemudaan, keperkasaan dan kesuksesan oleh kekompok budaya tertentu. Stres ekonomi, yang diakibatkan oleh beban keuangan dari mendidik anak dan memberikan status simbol bagi seluruh anggota keluarga. Stres psikologis, yang mungkin diakibatkan oleh kematian dan kepergian orang-orang yang dianggap penting.

      Sebagai Masa Ketegangan Emosional

Masa ini adalah masa penyesuaian diri dengan lingkunganya, sehingga seseorang akan rentan mengalami ketegangan emosional. Sekitar awal atau pertengahan tiga puluhan, kebanyakan orang muda telah mampu memecahkan masalah-masalah mereka dengan cukup baik sehingga menjadi lebih stabil dan tenang secara emosional. Namun, apabila seseorang merasa tidak mampu mengatasi masalah-masalah utama dalam kehidupan mereka, mereka sering sedemikian terganggu secara emosional, sehingga mereka memikirkan atau mencoba untuk bunuh diri.

      Adalah “Usia yang Berbahaya”

Usia berbahaya ini timbul sebagian besar di kalangan pria yang ingin melakukan pelampiasan kekerasan yang berakhir sebelum memasuki usia lanjut. Selain itu, juga karena pada masa ini seseorang mengalami kesusahan fisik sebagai akibat dari terlalu banyak bekerja, rasa cemas yang berlebihan, ataupun kurang memperhatikan kehidupan. Timbulnya penyakit jiwa datang dengan cepat di kalangan pria dan wanitam dan gangguan ini berpuncak pada bunuh diri.

      Sebagai Masa Keterasingan Sosial

Dengan berakhirnya pendidikan formal dan terjunnya seseorang ke dalam pola kehidupan orang dewasa, yaitu karier, perkawinan dan rumah tangga, hubungan dengan teman-teman kelompok sebaya masa remaja menjadi renggang, dan berbarengan dengan itu keterlibatan dalam kegiatan kelompok di luar rumah akan terus berkurang. Sebagai akibatnya, untuk pertama kali sejak bayi, semua orang muda, bahkan yang populer pun, akan mengalami keterpencilan sosial atau apa yang disebut Erikson sebagai “krisis keterasingan.” Keterasingan diintensifkan dengan adanya semangat bersaing dan hasrat kuat untuk maju dalam karir—dengan demikian keramahtamahan masa remaja diganti dengan persaingan dalam masyarakat dewasa—dan mereka juga harus mencurahkan sebagian besar tenaga mereka untuk pekerjaan mereka, shingga mereka hanya dapat menyisihkan waktu sedikit untuk sosialisasi yang diperlukan untuk membina hubungan-hubungan yang akrab. Akibatnya, mereka menjadi egosentris dan ini tentunya menambah kesepian mereka.

      Adalah “Usia Canggung”

Istilah ‘usia canggung’ (awkward age). Pada masa ini pria dan wanita berusia madya bukan ‘muda’ lagi tapi bukan juga tua. Mereka juga menganggap keberadaan mereka dalam masyarakat tidak dianggap, orang-orang yang berusia madya sedapat mungkin berusaha untuk tidak dikenal oleh orang lain.

      Sebagai Masa Komitmen

Pada masa ini, seseorang akan mulai menentukan pola hidup baru, memikul tanggung jawab baru dan membuat komitmen-komitmen baru. Meskipun pola-pola hidup, tanggung jawab dan komitmen-komitmen baru ini mungkin akan berubah juga, pola-pola ini menjadi landasan yang akan membentuk pola hidup, tanggung jawab dan komitmen-komitmen di kemudian hari.

      Adalah Masa Berprestasi

Usia Madya, seyogianya menjadi masa tidak hanya untuk keberhasilan keuangan dan sosial tetapi juga untuk kekuasaan dan prestise. Biasanya, pria meraih puncak karier mereka antara usia 40-50 tahun, yaitu setelah mereka puas terhadap hasil yang diperoleh dan menikmati hasil kesuksesan mereka sampai mereka mencapai awal usia eam puluhan.  Usia madya merupakan masa di mana peran kepemimpinan pada pria dan wanita dalam pekerjaan, perindustrian dan organisasi masyarakat merupakan imalan atas prestasi yang dicapai.

      Sering Merupakan Masa Ketergantungan

Banyak anak-anak muda yang masih menggantungkan diri pada lembaga-lembaga tertentu seperti pendidikan, pemerintah atau pekerjaan yang menghidupi merka. Ada beberapa dari mereka yang membenci ketergantungan ini, walaupun mereka menyadari bahwa hal itu perlu agar mereka memperoleh pendidikan yang dibutuhkan untuk pekerjaan pilihan mereka. Keadaan ketergantungan ini sering berkepanjangan sampai akhir usia duapuluhan atau awal usia tigapuluhan.

      Merupakan Masa Evaluasi

Pada umumnya, usia madya merupakan saat pria dan wanita mencapai puncak prestasinya, saat itu pula mereka akan mengevaluasi prestasi-prestasi yang telah mereka raih berdasarkan aspirasi mereka semula dan harapan-harapan orang lain, khususnya anggota keluarga dan teman.

      Sebagai Masa Perubahan Nilai

Banyak nilai masa kanak-kanak dan remaja berubah karena pengalaman dan hubungan sosial yang lebih luas dengan orang-orang yang berbeda usia dan karena nilai-nilai itu kini dilihat dari kacamata orang dewasa.

      Dievaluasi dengan Standar Ganda

Pada masa ini, baik pria dan wanita akan dievaluasi pada kedua gender tersebut. Walaupun perkembangannya cenderung mengarah ke persamaan peran antara pria dan wanita baik di rumah, perusahaan, perindustrian, profesi maupun dalam kehidupan sosial, namun masih terdapat standar ganda terhadap usia. Meskipun standar ganda ini mempengaruhi banyak aspek terhadap kehidupan pria dan wanita usia madya tetapi ada dua aspek khusus yang perlu diperhatikan; pertama adalah aspek yang berkaitan dengan perubahan jasmani. Kedua, dimana standar ganda dapat terlihat nyata pada cara mereka menyatakan sikap terhadap usia tua.

      Sebagai Masa Penyesuaian Diri Dengan Cara Hidup Baru

Masa dewasa dini merupakan periode yang paling banyak mengalami perubahan. Dalam masa dewasa ini gaya-gaya hidup baru paling menonjol di bidang perkawinan dan peran orang tua.

      Merupakan Masa Sepi

Pada masa ini para orang tua sudah harus melepaskan anak-anaknya untuk tidak lagi tinggal bersama mereka. Kecuali dalam beberapa kasus di mana pria dan wanita menikah lebih lambat dibandingkan dengan usia rata-rata, atau menunda kelahiran anak. Periode ini bersifat traumatic bagi wanita yang terbiasa menghabiskan masa-masa dewasa mereka dengan pekerjaan rumah tangga dan bagi mereka yang kurang memiliki minat tau sumber daya untuk mengisi waktu senggang mereka pada waktu pekerjaan rumah tangga berkurang atau selesai.

      Sebagai Masa Kreatif

Bentuk kreatifitas yang akan terlihat pada saat dewasa tergantung pada minat dan kemampuan individual, kesempatan untuk mewujudkan keinginan dan kegiatan-kegiatan yang memberikan kepuasan sebesar-besarnya. Ada yang menyalurkan kreativitasnya melalui hobi, ada yang menyalurkannya melalui pekerjaan yang memungkinkan ekspresi kreativitas.

      Merupakan Masa Jenuh

Banyak pria maupun wanita yang mengalami kejenuhan pada akhir usia tiga puluhan dan empat puluhan. Para pria menjadi jenuh dengan kegiatan rutin sehari-hari dan kehidupan bersama keluarga yang hanya memberikan sedikit hiburan. Wanita, yang menghabiskan waktunya untuk memelihara rumah dan membesarkan anak-anaknya, bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan pada usia setelah dua puluh atau tiga puluh tahun kemudian. Kejenuhan tidak akan mendatangkan kebahagiaan ataupun kepuasan pada usia manapun. Akibatnya, usia madya seringkali merupakan periode yang tidak menyenangkan dalam hidup.

 

  1. Perkembangan Kepribadian Pada Masa Dewasa

Masa Remaja-Dewasa Awal(Youth and Young Adulthood)

Menurut Jung, pada masa ini seseorang akan mengalami banyak masalah utama yang mencakup konflik, adaptasi dan tuntutan-tuntutan dari lingkungannya. Fokus utama mereka adalah pendidikan, karir dan membina keluarga.Tugas-tugas tersebut menuntut kesadaran penuh dimana individu pada masa ini umumnya merasa sebagai seorang pribadi yang antusias dan penuh gairah.

Masa Dewasa Tengah(Middle hood)

Pada masa ini, seorang individu lebih mantap dalam karir, keuangan, keluarga dan masyarakat.Masa ini merupakan masa berhasil dalam hidup, dimana individu mulai menikmati kehidupannya. Namun, Jung juga berpendapat bahwa pada masa ini akan terjadi perubahan kepribadian. Perubahan ini terjadi karena pada masa ini, seseorang sudah memenuhi tuntutan dalam hidup.Artinya, energi telah dikeluarkan pada masa sebelumnya.Shingga pada masa ini, dimana tantangan dalam hidup telah berkurang, energy yang dimiliki tidak dapat disalurkan untuk memenuhi tantangan selanjutnya.

Jung yakin bahwa sebelum usia 40 tahun, fokus hidup seseorang berpusat pada dunia luar, namun pada masa dewasa ini (di atas 40 tahun), fokus hidup seseorang harus berpusat dalam diri. Oleh karena itu, kepribadian seseorang biasanya menjadi introversi, perhatian beralih ke hal yang religious, filosofis, intuitif dan upaya mencapai realisasi diri.

 

  1. Perubahan Transisi Keluarga Pada Masa Dewasa

Siklus kehidupan keluarga (family life cycle)—urutan fase karakteristik pengembangan kebanyakan keluarga di seluruh dunia.Pada masa dewasa awal, orang biasanya hidup sendiri, menikah, dan kemudian melahirkan dan membesarkan anak. Di usia paruh baya, ketika anak mulai meninggalkan rumah, tanggung jawab pengasuhan mereka mulai berkurang. Masa dewasa akhir menyebabkan pensiun, bertambah tua dan kematian pasangan (Carter & McGoldrick, 2005).

  • Memasuki Kehidupan Keluarga dalam Pernikahan

Pernikahan lebih dari sekadar bergabungnya dua individu.Ia mensyaratkan bahwa dua sistem—keluarga si pasangan—beradaptasi dan tumpang tindih untuk melahirkan sebuah subsistem baru. Alhasil, pernikahan menghadirkan tantangan kompleks.Hal ini tertutama terjadi saat ini karena peran suami-istri baru-baru ini saja bergeser kea rah kemitraan sejati—dari sisi pendidikan, pekerjaan, dan ketersambungan emosional. Di antara pasangan sesame jenis, penerimaan orangtua terhadap hubungan itu, pelibatan pasangan dalam acara keluarga, dan tinggal di sebuah komunitas yang mendukung tempat dimana mereka dapat terbuka mengenai hubungan mereka memberikan manfaat kepuasan dan kelangsungan hubungan (Diamond, 2006; Elizur & Mintzer, 2003; Rostosky dkk., 2007).

  • Peran Dalam Pernikahan

Dalam pernikahan tradisional, yang melibatkan pembagian tegas antara peran suami dan istri, banyak di jumpai di Negara Timur.Suami adalah kepala rumah tangga; tanggung jawab utamanya adala kesejahteraan ekonomi keluarga.Istri mengabdikan dirinya untuk melayani suami dan anak serta menciptakan suasana rumah yang baik dan menyenangkan.Sementara dalam pernikahan egaliter, pasangan berhubungan secara setara dan berbagi kekuasaan dan otoritas.Kedua pihak berusaha menyeimbangkan antara waktu dan tenaga yang mereka curahkan pada pekerjaan, anak-anak dan hubungan mereka.Kebanyakan perempuan karir dan terdidik mengharapkan bentuk pernikahan seperti ini. Pasangan kuliah yang akhirnya bermaksud untuk menikah kerap kali merencanakan terlebih dahulu bagaimana mereka akan berbagi peran kerja dan keluarga, terutama jika si perempuan berniat memasuki sebuah karier yang didominasi oleh laki-laki (Botkin, Weeks, & Morris, 2000; Peake & Harris, 2002).

  • Kepuasan Dalam Pernikahan

Ada beberapa faktor yang menentukan bahagia atau tidaknya sebuah pernikahan:

Faktor Pernikahan Bahagia Pernikahan Tidak Bahagia
Latar  belakang keluarga Pasangan mirip dari sisi SES, pendidikan, agama dan usia Pasangan yang sangat berbeda dari sisi SES, pendidikan, agama dan usia
Usia saat menikah Setelah usia 23 tahun Sebelum usia 23 tahun
Lama pacaran Minimal tujuh bulan Kurang dari tujuh bulan
Waktu kehamilan pertama Setelah tahun pertama usia pernikahan Sebelum atau saat tahun pertama pernikahan
Hubungan dengan keluarga besar Hangat dan positif Negatif; keinginan untuk menjaga jarak
Pola pernikahan dalam keluarga besar Stabil Tidak stabil; sering berpisah atau bercerai
Status keuangan dan kerja Aman Tidak aman
Tanggung jawab keluarga Bersama-sama; persepsi akan keadilan Kebanyakan menjadi tanggung jawab perempuan; persepsi akan ketidakadilan
Karakter kepribadian Emosi positif; terampil dalam menyelesaikan masalah Emosi negatif dan meledak-ledak; buruk dalam menyelesaikan masalah

Sumber: Bradbury, Fincham & Beach, 2000; Johnson dkk., 2005; Waldinger dkk., 2004

  • Menjadi Orang Tua

Bagi banyak orang dewasa, keputusan untuk memiliki anak biasanya merupakan ‘bawaan biologis atau tuntutan budaya yang tidak terhindari’ (Michaels, 1988, hlm. 23).

Keuntungan dan Kerugian Menjadi Orangtua Menurut Pasangan Zaman Sekarang

Keuntungan Kerugian
·         Memberi dan menerima kasih sayang

·         Mengalami stimulasi dan kesenangan hidup tambahan dari anak

·         Diterima seagai anggota dewasa dan bertanggung jawab dari komunitas.

·         Mengalami pertumbuhan dan kesempatan belajar baru yang memperkaya arti hidup

·         Memiliki seseorang yang akan mengurus kematian sendiri

·         Memperoleh rasa akan pencapaian dan kreativitas dari membesarkan anak

·         Belajar untuk tidak egois dan berkorban

·         Memiliki keturunan yang akan membantu pekerjaan orangtua atau menambahkan penghasilan mereka pada sumber daya keluarga

§  Hilangnya kebebbasan dan menjadi terikat

§  Masalah keuangan

§  Beban peran yang terlalu berat—tidak cukup waktu bagi tanggung jawab keluarga dan pekerjaan

§  Terganggunya peluang kerja ibu

§  Risiko membesarkan anak-anak di dunia yang sarat kejahatan, perang dan polusi

§  Kekhawatiran atas keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan anak

§  Hilangnya privasi

§  Kekhawatiran anak akan berubah menjadi jahat karena kesalahan sendiri

Sumber : Cowan & Cowan, 2000; O’Laughlin & Anderson, 2001.

 

  1. Perubahan Fisik Pada Masa Dewasa

Penuaan biologis (biological aging atau senescence) mulai terjadi—penurunan terpengaruh biologis dalam pemfungsian organ dan sistem yang berlaku umum bagi seluruh anggota spesies kita (Berk, 2010).

Selama usia 20-an dan 30-an, perubahan tampilan fisik dan penurunan fungsi tubuh terjadi sangat pelan sehingga sebagian besar sulit untuk diamati. Kemudian, perubahan itu akan terjadi semakin cepat.

Organ Atau Sistem Waktu Perubahan Deskripsi
Pancaindra

·         Penglihatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

·         Pendengaran

 

 

 

·         Pengecap

 

 

 

·         Penciuman

 

·         Peraba

 

Dari usia 30 tahun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari usia 30

 

 

 

Dari usia 60

 

 

 

Dari usia 60

 

Bertahap

 

Ketika lensa mengeras dan menipis, kemampuan untuk fokus pada objek dekat menurun. Menguningnya lensa, melemahnya otot yang mengendalikan pupil, dan redupnya vitreous (zat mirip agar-agar yang memenuhi mata) mengurangi jangkauan cahaya retina dan merusak kemampuan membedakan warna dan penglihatan di malam hari. Ketajaman pandangan, atau ketepatan dalam pembedaan, semakin berkurang dengan penurunan tajam antara usia 70 dan 80 tahun.

Kepekaan terhadap suara menuru, terutama frekuensi tinggi tetapi secara berangsur-angsur meluas pada semua frekuensi. Perubahan pada laki-laki dua kali lebih cepat dibanding perempuan.

Kepekaan pada empat rasa dasar—manis, asin, asam dan pahit—berkurang. Hal ini mungkin dikarenakan faktor lain selain penuaan, karena jumlah dan persebaran perasa pada lidah tidak berubah.

Hilangnya reseptor bau mengurangi kemampuan untuk mendeteksi dan mengidentifikasi bau.

Hilangnya reseptor sentuhan mengurangi kepekaan pada tangan, terutama ujung jejari.

Kardiovaskular Bertahap Ketika otot jantung menjadi semakin kaku, detak jantung maksimum menurun sehingga mengurangi kemampuan jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuh saat tegang karena olahraga. Ketika dinding arteri menegang dan menumpuk plak, aliran darah ke sel tubuh berkurang.
Pernapasan Bertahap Saat aktivitas fisik, kemampuan pernapasan menurun dan laju napas meningkat. Menegangnya jaringan ikat pada paru-paru dan otot duda menjadikan lebih sulit bagi paru-paru untuk memperoleh volume penuh.
Kekebalan Bertahap Menyusutnya kelenjar timus menghambat pematangan sel T dan kemampuan sel B dalam melawan penyakit sehingga memengaruhi respons kekebalan.
Otot Bertahap Ketika saraf perangsang otot mati, jumlah serat otot kejang cepat (yang bertanggung jawab atas kecepatan dan kekuatan eksplosif) menurun dan menebal melebihi saraf otot kejang lambat (yang mendukung daya tahan). Tendon dan ligamen (yang menyalurkan tindakan otot) menegang sehingga mengurangi kecepatan dan fleksibilitas gerak.
Kerangka Mulai di akhir usia 30-an, mempercepat di usia 50-an, melambat di usia 70-an Tulang rawan pada sendi-sendi menipis dan retak, menyebabkan ujung tulang di bawahnya terkikis. Sel-sel baru terus tersimpan pada lapisan luar tulang, dan kandungan mineral tulang menurun. Tulang lebih luas namun keropos melemahkan kerangka dan menjadikannya lebih rentan patah. Perubahan pada perempuan lebih cepat dibanding pada laki-laki.
Reproduksi Pada perempuan, mempercepat setelah usia 35 tahun, pada laki-laki mulai sesudah usia 40 tahun. Masalah kesuburan (seperti sulit hamil dan melahirkan tepat waktu) dan risiko punya bayi dengan kelainan kromosom meningkat.
Saraf Dari usia 50 tahun Bobot otak berkurang saat neuron kehilangan kadar air dan mati, terutama pada korteks serebral, dan ketika bilik (ruang) pada otak melebar. Perkembangan sinapsis baru dan generai terbatas neuron sebagian dapat mengimbangi penurunan ini.
Kulit Bertahap Kulit ari kurang menempel juat pada dermis, serat pada dermis dan hypodermis menipis, sel-sel lemak pada hypodermis berkurang. Akibatnya, kulit menjadi longgar, kurang elastis, dan keriput. Perubahan lebih cepat pada perempuan dibanding pada laki-laki.
Rambut Dari usia 35 tahun Uban dan tipis.
Tinggi Dari usia 35 tahun Hilangnya kekuatan tulang menyebabkan runtuhnya piringan pada kolom tulang punggung, sehingga menyebabkan hilan tinggi sebesar 2 inci pada usia 70-an dan 80-an.
Bobot Bertambah hingga usia 50 tahun, menurun dari usia 60 tahun Perubahan berat badan mencerminkan peningkatan lemak dan penurunan otot dan mineral tulang. Oleh karena otot dan tulang lebih berat daripada lemak, hasilnya adalah kenaikan berat diikuti oleh pengurangan. Lemak tubuh terakumulasi pada batang tubuh dan berkurang pada kaki dan tangan.

Sumber: Arking, 2006: Whalley, 2001: Whitbourne, 1996.

 

  1. Perubahan Kognitif Pada Masa Dewasa

Perubahan kognitif di masa dewasa awal didukung oleh perkembangan lebih lanjut korteks otak besar, khususnya bagian otak depan. Pemangkasan sinapsis seiring dengan pertumbuhan dan mielinasi serat saraf terstimulasi terus berlanjut, sekalipun lebih lambat daripada yang terjadi di saat remaja (Nelson, Thomas & DeHaan, 2006).

Perubahan kognisi yang terjadi di masa dewasa awal terbagi menjadi tiga sudut pandang menurut teoritisi Masa Hidup:

  1. Mereka mengusulkan transformasi dalam struktur pemikiran—cara berpikir kualitatif yang khas dan baru serta memperluas perubaha perkembangan kognitif di masa kanak-kanak dan remaja.
  2. Usia dewasa adalah masa pencapaian pengetahuan maju dalam suatu bidag tertentu, sebuah pencapaian yang memiliki implikasi penting terhadap pengolahan informasi dan kreativitas.
  3. Peneliti tertarik sejauh mana beragam kemampuan mental yang dinilai oleh tes kecerdasan tetap stabil atau berubah selama tahun-tahun dewasa.

Piaget (1967) melihat kemungkinan bahwa kemajuan penting dalam pemikiran mengikuti pencapaian operasi formal.Dia mengamati bahwa remaja lebih memilih sebuah pandangan idealis dan teguh mengenai sebuah dunia daripada sebuah pandangan kabur, bertentangan, dan mengikuti keadaan tertentu. Teori tersebut kemudian dikritik karena tidak sesuai dengan realita masa remaja dalam kebudayaan-kebudayaan lain. Sejumlah ahli berpendapat bahwa tahap itu dimulai pada masa dewasa awal.

Gisela Labouvie-Vief, 1986 (dalam Mc Connell & Philipchalk, 1992) menyatakan bahwa pemikiran dewasa muda menunjukkan suatu perubahan yang signifikan. Ia percaya bahwa masyarakat kita yang kompleks memiliki pertimbangan-pertimbangan yang praktis dan bahkan mengubah bentuk logika kaum muda yang idealis. Karena itu, pemikiran orang dewasa muda menjadi lebih konkrit dan pragmatis, sesuatu yang dikatakan oleh Labouvie-Vief sebagai tanda kedewasaan.

Sementara itu pada masa dewasa pertengahan (madya), menurut Horn, crystallized intelligence (akumulasi dari informasi dan keterampilan) akan terus meningkat di usia paruh baya, sementara fluid intelligence (kemampuan melakukan penalaran abstrak) akan menurun.

  1. Perubahan Psikososial Pada Masa Dewasa

Konflik psikologis di masa dewasa awal menurut Erikson adalah keintiman vs isolasi (intimacy versus isolation) yang tercermin dalam pikiran dan perasaan anak muda tentang membuat komitmen tetap pada pasangan dekat.Mereka mulai merasakan keinginan untuk berhubungan lebih intim/akrab dengan individu lainnya. Pada tahap ini, mereka akan mulai mengembangkan gairah seksual dalam hubungan timbal balik dengan orang yang mereka cintai. Lawan dari perasaan itu, apabila mereka gagal melaksanakan hal tersebut adalah isolasi yaitu menarik diri dari lingkungan karena ketidak inginan untuk terlibat keintiman dengan individu lainnya.

 

Sedangkan pada masa dewasa madya, konflik pskikologis yang timbul adalah generativitas vs stagnasi. Kecenderungan untuk menghasilkan—maupun tetap berhenti (stagnasi) akan dominan. Menurut Erikson, selama usia madya, orang akan menjadi lebih sukses atau sebaliknya mereka akan berhenti dan tidak mengerjakan sesuatu apapun lagi. Individu pada masa ini jugaakan mulai memiliki rasa berbagi, kasih sayang terhadap apa yang mereka hasilkan, serta mencurahkan perhatian mereka. Biasanya, pada tahap ini mereka akan melimpahkan perasaan tersebut pada anak-anak/keturunan mereka. Keinginan untuk dapat mengajarkan apa yang sudah mereka ketahui semasa hidupnya. Namun hal ini juga akan menimbulkan rasa ingin menguasai yang besar sehingga akan menyebabkan hal negatif untuk individu lainnya. Hasil negatif dari fase ini adalah stagnasi, terjadi bila orang menjadi egosi dan asyik dengan diri sendiri di usia paruh baya.

 

**

 

Daftar Pustaka:

Alwisol.(2009). Psikologi Kepribadian.Malang: UMM Press.

Berk, Laura E. (2010).Development Through the Lifespan (Edisi kelima: Dari Dewasa Awal Sampai Menjelang Ajal). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Desmita.(2013). Psikologi Perkembangan.Bandung: Rosdakarya.

Hurlock, Elizabeth B. (1980). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

Santrock, John W. (2011). Life-Span Developement (Perkembangan Masa Hidup).Jakarta: Erlangga.

 

Advertisements

Tunjukkan gigimu.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s