[BAB 3] PSIKOLOGI PERKEMBANGAN MASA PUBER & REMAJA


lifespan_logo_final_2x

“PSIKOLOGI PERKEMBANGAN MASA PUBER & REMAJA”

DISUSUN OLEH

SYATI’UL INAYAH

1511600035

JURUSAN PSIKOLOGI

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS SURABAYA

OKTOBER 2016

(Because sharing is caring)

  • Masa Pubertas

Pubertas adalah periode dalam rentang perkembangan ketika anak-anak berubah dari makhluk aseksual menjadi seksual. Kata pubertas sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘usia kedewasaan’. Pada masa ini anak-anak akan mulai mengalami kematangan organ-organ reproduksinya juga mengalami perubahan-perubahan dalam pertumbuhan fisik dan psikologis.

Pubertas (puberty) adalah sebuah periode dimana kematangan fisik berlangsung cepat, yang melibatkan perubahan hormonal dan tubuh, yang terutama berlangsung di masa remaja awal (Santrock, 2012).

Menurut Papalia, Olds, dan Feldman (2009), menjelaskan bahwa masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang mengandung perubahan besar fisik, kognitif dan psikososial. Menurut King (2010) masa remaja (adolescence) adalah masa perkembangan yang merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Masa ini dimulai pada sekita usia 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 hingga 21 tahun.

Masa remaja dibagi menjadi 2 bagian, masa remaja awal (sekitar usia 13-17 tahun) dan masa remaja akhir (sekitar usia 17-18 tahun). Merupakan periode klimaks dari periode-periode perkembangan sebelumnya (Hurlock, 2003) Sementara itu, ciri masa puber menurutnya adalah:

Masa Puber Adalah Periode Tumpang Tindih

Masa ini disebut tumpang tindih karena pada masa ini remaja mengalami transisi dari anak-anak akhir dan remaja. Sebelum anak tersebut matang secara seksual, ia akan dikenal sebagai ‘anak puber’. Setelah anak tersebut matang secara seksual, barulah dia dapat disebut remaja.

Masa Puber Adalah Periode yang Singkat

Masa ini berlangsung relatif singkat yaitu beriksar dua sampai empat tahun. Anak yang mengalami masa transisi ini hanya dua tahun atau kurang, maka anak tersebut dianggap ‘cepat matang’ sedangkan anak yang memerlukan waktu tiga sampai empat tahun, dianggap ‘lambat matang’. Biasanya terdapat perbedaan pada anak laki-laki dan perempuan. Anak perempuan umumnya cenderung lebih cepat matang dari pada laki-laki.

Masa Puber Dibagi dalam Tahap-Tahap

Meskipun terjadi dalam waktu yang singkat, namun masa puber biasanya dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap prapuber, puber dan pascapuber.

Tahapan pubertas menurut Hurlock, 1980 adalah:

Tahap Pubertas
Tahap Prapuber

Tahap ini berkembang tindih dengan satu atau dua tahun terakhir masa kanak-kanak pada saat anak dianggap sebagai “prapuber” yaitu bukan lagi seorang anak tetapi belum juga seorang remaja. Dalam tahap prapuber atau tahap “pematangan”, ciri-ciri seks sekunder mulai tampak tetapi organ-organ reproduksi belum sepenuhnya berkembang.

Tahap Prapuber

Tahap ini terjadi pada garis pembagi antara masa kanak-kanak dan masa remaja saat di mana kireteria kematangan seksual muncul—haid pada anak perempuan dan pengalaman mimpi basah pertama kali di malam hari pada anak laki-laki. Selama tahap remaja (atau tahap “matang”), ciri-ciri seks sekunder telah berkembang dan sel-sel direproduksi dalam organ-organ seks.

Tahap Pascapuber

Tahap ini bertumpang tindih dengan tahun pertama atau kedua masa remaja. Selama tahap ini, ciri-ciri seks sekunder telah berkembang baik dan organ-organ seks mulai berfungsi secara matang.

 

Masa Puber Merupakan Masa Pertumbuhan dan Perubahan yang Pesat

Masa puber atau pubertas adalah salah satu dari dua periode dalam rentang kehidupan yang ditandai oleh pertumbuhan yang pesat dan perubahan yang mencolok dalam proporsi tubuh.

Masa Puber Merupakan Fase Negatif

Istilah fase menunjukkan periode yang berlangsung singkat, negative berarti bahwa individu mengambil sikap ‘anti’ terhadap kehidupan atau kehilangan sifat-sifat baik yang sebelumnya sudah berkembang.

Pubertas Terjadi pada Berbagai Usia

Pubertas dapat terjadi setiap saat antara usia lima atau enam dan sembilan belas tahun. Terdapat perbedaan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan proses perubahan masa puber.

Sementara Santrock menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi masa pubertas ini adalah:

Bawaan Kemunculan pubertas bukanlah suatu insiden lingkungan. Kemunculan pubertas telah di program di dalam gen setiap manusia (Adair, 2001).
Hormon Hormones (hormon) adalah zat kimiawi yang kuat yang diciptakan oleh kelenjar endokrin dan dibawa ke seluruh tubuh

melalui aliran darah. Pada laki-laki hormon ini disebut dengan androgen sedangkan perempuan disebut dengan estrogen. Testosteron adalah androgen yang berperan penting bagi perkembangan pubertas laki-laki, termasuk perkembangan genital eksternal, bertambahnya tinggi badan dan perubahan suara (Hiot, 2002). Sementara Estradiol adalah estrogen yang berperan dalam perkembangan perempuan. Ketika hormon ini berkembang, maka terjadilah pertumbuhan payudara, rahim dan perubahan kerangka.

Sistem Endokrin Peran sistem endokrin di masa pubertas melibatkan interaksi dari hipotalamus, kelenjar pituitary dan gonad (kelenjar seks). Hipotalamus adalah sebuah struktur yang terletak di bagian atas otak yang memonitor kegiatan makan, minum, dan seks. Kelenjar pituitary adalah kelenjar endokrin yang mengontrol pertumbuhan dan meregulasi kelenjar-kelenjar lain. Gonad adalah kelenjar seks. Cara kerja sistem endokrin ini adalah kelenjar pituitary mengirimkan sebuah signal melalui gonadotropin (hormone yang merangsang kelenjar seks) ke testis dan indung telur untuk menghasilkan hormon. Kemudian, melalui interaksi dengan hipotalamus, kelenjar pituitary berusaha mendeteksi kapan dicapai kadar yang optimal dari hormon dicapai dan berusaha mempertahankannya melalui sekresi gonadotropin tambahan (Cameron, 2004).
Berat Tubuh, Lemak Tubuh, dan Leptin Beberapa peneliti berpendapat bahwa seorang anak harus meraih suatu massa tubuh yang kritis sebelum masa pubertas, khususnya menarche(menstruasi pertama), muncul (Weise, Einsne, Merkem 2002). Beberapa ahli mengatakan bahwa berat tubuh sekitar 106±3pon dapat memicu menarche dan berakhirnya pertambahan tubuh yang pesat di masa pubertas (Friesch, 1984).

 

  1. Perubahan Fisik Pada Masa Pubertas

Perubahan Ukuran Tubuh

Perubahan fisik ini umumnya terdiri dari perubahan ukuran pada tinggi dan berat badan. Untuk anak-anak perempuan, rata-rata peningkatan tinggi pertahun sebelum haid adalah antara 3 sampai 6 inci. Sementara untuk pertumbuhan beratnya yang paling besar pada anak perempuan terjadi sesaat sebelum dan sesudah haid. Setelah itu, pertumbuhan berat hanya sedikit.

Untuk anak laki-laki, permulaan periode pertumbuhan tinggi tubuh dimulai rata-rata pada usia 12,8 tahun dan berakhir rata-rata pada 15,3 tahun dan puncaknya pada empat belas tahun. Sedangkan untuk pertumbuhan berat, maksimum terjadi setahun atau dua tahun setelah anak perempuan dan mencapai puncaknya pada usia enam belas tahun, setelah itu pertambahan berat hanya sedikit.

Perubahan Proporsi Tubuh

Perubahan proporsi ini adalah bertambahnya ukuran daerah-daerah tubuh yang tadinya terlampau kecil, sekarang menjadi terlampau besar karena kematangan tercapai lebih cepat dari daerah-daerah tubuh yang lain. Misalnya, badan yang kurus da panjang mulai melebar di bagian pinggul dan bahu, dan ukuran pinggang berkembang. Pertumbuhan tungkai kaki dan lengan juga mendahului pertumbuhan berat badan, sehingga tampak terlalu panjang.

Ciri-ciri Seks Primer

Ciri-ciri seks primer lebih merajuk kepada organ-organ seks. Pada pria, gonad atau testes, yang terletak di dalam scrotum, atau sac, di luar tubuh manusia, pada usia empat belas tahun baru sekitar 10 persen dari ukuran matang. Kemudian pertumbuhan berlangsung pesat selama satu atau dua tahun, setelah itu tingkat pertumbuhan menurun dan akan berkembang secara penuh pada usia dua puluhan. Jika pertumbuhan organ-organ reproduksi sudah matang, setelah itu akan muncul mimpi basah, biasanya keadaan ini muncul saat anak laki-laki tersebut bermimpi tentang seksual yang menggairahkan.

Pada perempuan, organ-organ reproduksi akan tumbuh secara pesat pada masa puber, meskipun relatif berbeda-beda pada setiap anak. Berat uterus anak usia sebelas atau dua belas tahun berkisar antara 5,3 gram, pada usia enam belas rata-rata beratnya 43 gram. Tuba falopi, telur-telur dan vagina juga tumbuh dengan pesat. Fase ini biasanya ditandai dengan datangnya menstruasi pada anak perempuan. Ini adalah permulaan dari serangkaian pengeluaran darah, lender, dan jaringan sel yang hancur dari uterus secara berkala, yang akan terjadi setiap dua puluh delapan hari sampai mencapai menopause, pada akhir empat puluhan atau awal lima puluh tahun.

Ciri-Ciri Seks Sekunder yang Penting menurut Hurlock, 1980

Laki-laki Perempuan
Rambut

Rambut kemaluan timbul sekitar setahun setelah testes dan penis mulai membesar. Rambut ketiak dan rambut di wajah timbul kalau pertumbuhan rambut kemaluan hampir selesai, demikian pula rambut pada tubuh. Pada mulanya rambut yang tumbuh hanya sedikit, halus dan warnanya terang. Kemudian menjadi lebih gelap, lebih kasar, lebih subur dan agak keriting.

Pinggul

Pinggul menjadi bertambah lebar dan bulat akibat membesarnya tulang pinggul dan berkembangnya lemak bawah kulit.

Kulit

Kulit menjadi lebih kasar, tidak jernih, warnanya pucat dan pori-pori meluas.

Payudara

Segera setelah pinggul mulai membesar, payudara juga berkembang. Putting susu membesar dan menonjol, dan dengan berkembangnya kelenjar susu, payudara menjadi lebih besar dan lebih bulat.

Kelenjar

Kelenjar lemak atau yang memproduksi minyak dalam kulit semakin membesar dan menjadi lebih aktif, sehingga dapat menimbulkan jerawat. Kelenjar keringat di ketiak mulai berfungsi dan keringat bertambah banyak dengan berjalannya masa puber.

Rambut

Rambut kemaluan timbul setelah pinggul dan payudara mulai berkembang. Bulu ketiak dan bulu pada kulit wajah tampak setelah haid. Semua rambut kecuali rambut wajah mula-mula lurus dan terang warnanya, kemudian menjadi lebih subur, lebih kasar, lebih gelap dan agak keriting.

Otak

Otot-otot bertambah besar dan kuat, sehingga memberi bentuk bagi lengan, tungkai kaki, dan bahu.

Kulit

Kulit menjadi lebih kasar, lebih tebal, agak pucat dan lubang pori-pori bertambah besar.

Suara

Suara berubah setelah rambut kemaluan timbul. Mula-mula suara menjadi serak dan kemudian tinggi suara menurun, volumenya meningkat dan mencapai pada yang lebih enak. Suara yang pecah sering terjadi kalau kematangan berjalan pesat.

Kelenjar

Kelenjar lemak dan kelenjar keringat menjadi lebih aktif. Sumbatan kelenjar lemak dapat menyebabkan jerawat. Kelenjar keringat di ketiak mengeluarkan banyak keringat dan baunya menusuk sebelum dan selama masa haid.

Benjolan Dada

Benjolan-benjolan kecil di sekitar kelenjar susu pria timbul sekitar usia dua belas dan empat belas tahun. Ini berlangsung selama beberapa minggu dan kemudian menurun baik jumlahnya maupun besarnya.

Otot

Otot semakin besar dan semakin kuat, terutama pada pertengahan dan menjelang akhir masa puber, sehingga memberikan bentuk pada bahu, lengan dan tungkai kaki.

  Suara

Suara menjadi lebih penuh dan lebih semakin merdu. Suara serak dan suara yang pecah jarang terjadi pada anak perempuan.

 

  1. Perkembangan Psikoseksual pada masa Pubertas

Menurut Freud, perkembangan psikososial manusia dibagi menjadi 5 tahap, yaitu:

Tahap Oral

Kenikmatan anak dipusatkan di daerah mulut.

 

 

 

 

Lahir-1 ½ tahun

Tahap Anal

Kenikmatan anak dipusatkan di daerah anus.

 

 

 

 

1½tahun-3tahun

Tahap Falik

Kepuasan anak dipusatkan di daerah genital.

 

 

 

 

3-6 Tahun

Tahap Laten

Anak menekan hasrat seksual dan mengembangkan keterampilan sosial dan intelektual.

6tahun-puber

Tahap Genital

Saat kebangkitan seksual, sumber kesenangan seksual menjadi seseorang di luar keluarga.

Pubertas-dst

 

Pada masa pubertas menurut Freud, anak akan memasuki tahap genital yaitu tahap akhir perkembangan seksualnya.

Tahap genital (genital stage) adalah tahap yang berlangsung sejak remaja hingga ke masa selanjutnya. Tahap genital adalah masa dari kebangkitan seksual; kini sumber kenikmatan seksual terletak di luar keluarga. Menurut Freud, konflik-konflik dengan orang tua yang tidak terselesaikan akan muncul kembali di masa remaja. Apabila konflik-konflik ini terselesaikan, individu akan mampu mengembangkan relasi cinta yang matang dan berfungsi secara mandiri sebagai orang dewasa.

Kematangan Seksual

Para peneliti menemukan bahwa karakteristik pubertas laki-laki berkembang mengikuti ukuran tertentu; membesarnya ukuran penis dan testikel; tumbuhnya rambut kemaluan yang halus; perubahan suara yang tidak terlalu kentara; ejakulasi pertama; dll. Tiga tanda kematangan seksual yang paling menyolok pada remaja laki-laki adalah perpanjangan penis, perkembangan testis dan tumbuhnya rambut di wajah.

Sedangkan pada perempuan adalah membesarnya payudara, tumbuhnya rambut kemaluan, bulu di ketiak, pinggul yang membesar dan akhirnya timbulnya menstruasi pertama (menarche).

 

  • Masa Remaja

Secara Psikologis, masa remaja adalah usia di mana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia di mana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber. Termasuk juga perubaha intelektual yang mencolok, transformasi intelektual yang khas dari cara berpikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya merupakan ciri khas dari cara berpikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini (Piaget, 121).

Ciri-ciri remaja menurut Hurlock adalah:

Masa Remaja sebagai Periode yang Penting

Perkembangan pada masa ini penting baik untuk efek jangka pendek dan jangka panjangnya. Perkembangan fisik yang cepat dan penting disertai dengan cepatnya perkembangan mental yang cepat, terutama pada awal masa remaja. Semua perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlunya membentuk sikap, nilai dan minat baru.

Masa Remaja sebagai Periode Peralihan

Peralihan disini adalah bahwa apa perubahan yang dialami pada masa remaja ini akan mempengarui pola perilaku dan sikap baru untuk menggantikan perilaku dan sikap yang sudah ditinggalkan. Dalam periode ini akan terjadi kerancuan apakah mereka masih disebut anak-anak atau dewasa, mereka akan mengalami kebingungan peran. Pada masa ini, remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa. Masa peralihan ini juga menguntungkan, karena anak akan diberi waktu untuk menyesuaikan gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai untuknya.

Masa Remaja sebagai Periode Perubahan

Menurut Hurlock, ada beberapa perubahan yang hampir sama dan bersifat universal.

Pertama, meningginya emosi yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan

fisik dan psikologis yang terjadi. Kedua, perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial untuk dipesankan, menimbulkan masalah baru. Ketiga, dengan berubahnya minat dan pola perilaku, maka nilai-nilai juga berubah. Misalnya, apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak, pada masa ini tak lagi dianggap penting. Keempat, sebagian besar remaja bersikap abivalen terhadap setiap perubahan.

Masa Remaja sebagai Usia Bermasalah

Masalah-masalah yang terjadi pada masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi baik pada anak laki-laki maupun perempuan. Terdapat dua alasan: yang pertama, sepanjang masa kanak-kanak, masalah anak-anak sebagian diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru, sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah. Kedua, karena para remaja merasa diri madiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan dari orang tua dan guru-guru.

Masa Remaja sebagai Masa Mencari Identitas

Seorang psikolog Jerman, Erikson menyatakan bahwa pada usia 10-20 tahun (usia remaja) adalah usia dimana mereka akan mengalami masa identitas versus kebingungan identitas. Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa peranannya dalam masyarakat. Apakah ia seorang anak atau seorang dewasa? Apakah nantinya ia dapat menjadi seorang suami atau ayah? Apakah ia mampu percaya diri sekalipun latar belakang rasa tau agama atau nasionalnya membuat beberapa orang merendahkannya? Secara keseluruhan, apakah ia akan berhasil atau gagal? (Erikson, 42).

Masa Remaja sebagai Usia yang Menimbulkan Ketakutan

Anggapan-anggapan negatif tentang remaja yang dibentuk masyarakat akan berdampak buruk pada remaja tersebut. Mereka akan menganggapnya sebagai sebuah citra diri yang asli dan mulai membentuk perilaku sesuai dengan gambaran negatif tersebut. Menerima sterotip ini dan adanyakeyakinan bahwa orang dewasa mempunyai pandangan yang buruk tentang remaja, membuat peralihan ke masa dewasa menjadi sulit. Hal ini menimbulkan banyak pertentangan dengan orang tua dan antara orang tua dan anak terjadi jarak yang menghalangi anak untuk meminta bantuan orang tua untuk  mengatasi masalanya.

Masa Remaja sebagai Masa yang Tidak Realistik

Remaja memiliki kecenderungan untuk melihat diri dari kacamata orang lain. Kebanyakan apa yang mereka inginkan bukanlah apa yang sebenarnya merka harapkan. Menjelang berakhirnya masa remaja, pada umumnya baik anak laki-laki maupun perempuan sering terganggu oleh idealisme yang berlebihan bahwa mereka segera harus melepaskan kehidupan mereka yang bebas bila telah mencapai status dewasa.

Masa Remaja sebagai Ambang Masa Dewasa

Pada saat akhir masa ini, remaja mulai meninggalkan kebiasaan sterotipnya dan mulai bertindak, berpakaian dan berperilaku seperti orang dewasa.

 

  1. Perubahan Fisik Pada Masa Remaja

Menurut Hurlock, perubahan fisik pada remaja dibagi menjadi dua yaitu eksternal dan internal;

Perubahan Eksternal Perubahan Internal
Tinggi

Rata-rata anak perempuan mencapai tinggi yang matang antara usia tujuh belas dan delapan belas tahun, dan rata-rata anak laki-laki setahun sesudahnya. Anak yang pada masa bayi diberi imunisasi biasanya lebih tinggi dari usia ke usia, dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi imunisasi, yang karena itu lebih banyak menderita sakit sehingga cenderung memperlambat pertumbuhan

 

Berat

Perubahan berat badan mengikuti jadwal yang sama dengan perubahan tinggi. Tetapi berat badan sekarang tersebar ke bagian-bagian tubuh yang tadinya hanya mengandung sedikit lemak atau tidak mengandung lemak sama sekali.

 

Proporsi Tubuh

Berbagai anggota tubuh lambat laun mencapai perbandingan tubuh yang baik. Misalnya, bahan melebar dan memanjang sehingga anggota badan tidak lagi kelihatan terlalu panjang.

 

Organ Seks

Baik organ seks pria maupun organ seks wanita mencapai ukuran yang matang pada akhir masa remaja, tetapi fungsinya belum matang sampai beberapa tahun kemudian.

 

Ciri-ciri Seks Sekunder

Ciri-ciri seks sekunder yang utama berada pada tingkat perkembangan yang matang pada akhir masa remaja.

Sistem Pencernaan

Perut menjadi lebih panjang dan tidak lagi terlampau berbentuk pipa, usus bertambah panjang dan bertambah besar, otot-otot di perut dan dinding-dinding usus menjadi lebih tebal dan lebih kuat, hati bertambah berat dan kerongkongan bertambah panjang.

Sistem Peredaran Darah

Jantung tumbuh pesat selama masa remaja; pada usia tujuh belas atau delapan belas, beratnya dua belas kali berat pada waktu lahir. Panjang dan tebal dinding pembuluh darah meningkat dan mencapai tingkat kematangan bilamana jantung sudah matang.

 

Sistem Pernapasan

Kapasitas paru-paru anak perempuan hampir matang pada usia tujuh belas tahun; anak laki-laki mencapai tingkat kematangan beberapa tahun kemudian.

 

Sistem Endorkin

Kegiatan gonad yang meningkat pada masa puber menyebabkan ketidakseimbangan sementara dari seluruh sistem endorkin pada awal masa puber. Kelenjar-kelenjar seks berkembang pesat dan berfungsi, meskipun belum mencapai ukuran matang sampai akhir masa remaja atau awal masa dewasa.

 

Jaringan Tubuh

Perkembangan kerangka berhenti rata-rata pada usia delapan belas. Jaringan, selain tulangm terus berkembang sampai tulang mencapai ukuran matang, khususnya bagi perkembangan jaringan otot.

 

  1. Perkembangan Kognitif Masa Remaja

Ditinjau dari teori kognitif Piaget, maka pemikiran masa ini telah mencapai tahap pemikiran operasional formal (formal operational thought). Pada tahap ini mereka sudah dapat berpikir secara abstrak dan hipotetis. Pada masa ini, mereka sudah mampu memikirkan sesuatu yang akan atau mungkin terjadi, sesuatu yang abstrak. Di samping itu, pada tahap ini remaja juga sudah mampu berpikir secara sistematik, mampu memikirkan semua kemungkinan secara sistematik untuk memecahkan permasalahan.

Para ahli perkembangan berpendapat bahwa pemikiran operasi formal terdiri dari dua subperiode (Broughton, 1983):

  • Pemikiran Opearsi Formal Awal. Penemuan remaja mengenai kemampuannya untuk berpikir secara hipotetis menghasilkan pikiran-pikiran bebas, dengan kemungkinan yang tidak terbatas. Dalam periode awal ini, pelarian ke fantasi dapat menggantikan realias sehingga dunia dipandang secara terlalu subjektif dan terlalu idealis.
  • Pemikiran Operasi Formal Akhir. Ketika remaja menguji penalarannya ke pengalaman, keseimbangan intelektual mengalami perbaikan. Melalui akomodasi, remaja mulai menyesuaikan pergolakan yang dialami. Pemikiran operasi formal akhir dapat muncul di masa remaja menengah.

 

  1. Perkembangan Moral Masa Remaja

Sesuai dengan tahap-tahap perkembangan moral menurut Kohlberg, tingkat penalaran moral remaja berada pada tahap konvensional, karena dibandingkan dengan anak-anak, tingkat moralitas remaja sudah lebih matang. Mereka mulai mengenal konsep-konsep moralitas seperti kejujuran, keadilan, kesopanan, kedisiplinan dan sebagainya.

Tingkat penalaran konvensional terdiri dari dua tahap: ekspektasi interpersonal timbal-balik, relasi dan konformitas interpersonal; serta moralitas sistem sosial.

  • Tahap 3 (dalam teori moral Kohlberg). Ekspektasi interpersonal timbal-balik, relasi dan konformitas interpersonal. Pada tahap ini, individu menilai kepercayaan, kepedulian, dan loyalitas terhadap orang lain sebagai dasar dari penilaian moral. Pada tahap ini, anak-anak dan remaja sering kali mengadopsi standar moral dari orang tua; mencari apa yang oleh orang tua akan dianggap sebagai “anak baik”.
  • Tahap 4. Moralitas dan Sistem Sosial. Dalam tahap ini, penilaian moral didasarkan pada pemahaman mengenai keteraturan sosial, hukum, keadilan dan tugas.

 

  1. Perkembangan Psikososial Masa Remaja
  2. Perkembangan Individualisasi dan Identitas

Dalam psikologi, konsep identitas pada umumnya merujuk pada suatu kesadaran akan kesatuan dan kesinambungan pribadi, serta keyakinan yang relatif stabil sepanjang rentang kehidupan, sekalipun terjadi berbagai perubahan. Menurut Erikson, seorang yang sedang mencari identitas akan berusaha “menjadi seseorang”, yang berarti berusaha mengalami diri sendiri sebagai “AKU” yang bersifat sentral, mandiri, unik yang mempunyai suatu kesadaran akan kesatuan batinnya, sekaligus juga berarti menjadi “seseorang” yang diterima dan diakui oleh banyak orang.

Menurut Josselson, 1980 proses pencarian identitas—proses dimana seorang remaja mengembangkan suatu identitas personal atau sense of self yang unik, yang berbeda dan terpisah oleh orang lain—disebut dengan individualisasi.

Proses-proses tersebut adalah:

Sub-Tahap Usia/Thn. Karakteristik
Differentiation 12-14 Remaja menyadari bahwa ia berbeda secara psikologis dari orang tuanya. Kesadaran ini sering membuatnya mempertanyakan dan menolak nilai-nilai dan nasehat-nasehat orang tuanya, sekalipun nilai-nilai dan nasehat tersebut masuk akal.
Practice 14-15 Remaja percaya bahwa ia mengetahui segala-galanya dan dapat melakukan sesuatu tanpa salah. Ia menyangkal kebutuhan akan peringatan atau nasehat dan menantang orang tuanya pada setiap kesempatan. Komitmennya terhadap teman-teman juga bertambah.
Rapporchemnt 15-18 Karena kesedihan dan kekhawatiran yang dialaminya, telah mendorong remaja untuk menerima kembali sebagian otoritas orang tuanya tetapi dengan bersyarat. Tingkah lakunya sering silih berganti antara eksperimentasi dan penyesuaian, kadang mereka menentang dan kadang berdamai dan bekerjasama dengan orang tua mereka. Di satu sisi ia menerima tanggung jawab di sekitar rumah, namun dis sisi lain ia akan mendongkol ketika orangtuanya selalu mengontrol membatasi gerak-gerik dan aktivitasnya di rumah.
Consolidation 18-21 Remaja mengembangkan kesadaran akan identitas personal, yang menjadi dasar bagi pemahaman dirinya dan diri orang lain, serta untuk mempertahankan perasaan otonomi, independen, dan individualitas.

Sumber : Diadaptasi dari Seifert & Hoggnung, (1994)

  1. Gagasan Erikson Mengenai Identitas

Menurut Erikson dalam teori perkembangannya, masa remaja adalah masa dimana mereka tengah berada dalam fase Identitas versus Kebingungan Identitas.  Disini remaja akan dengan sepenuhnya berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Mereka mulai memiliki perasaan bahwa mereka dapat menjadi sesuatu di masyarakat.Jika mereka tidak berhasil melakukan hal tersebut, maka mereka dapat mengalami kekacauan identitas/krisis identitas yaitu mereka merasa bahwa masyarakat memaksa mereka untuk menjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan sehingga mereka pun bersifat menentang dan memberontak. Biasanya ditunjukan dalam sikap-sikap berkebalikan dari yang diharapkan.

James Marcia (1980, 1994) berpendapat bahwa teori perkembangan identitas Erikson terdiri dari empat status identitas, atau cara yang ditempuh dalam menyelesaikan krisis identitas. Dia sendiri mendefinisikan krisis sebagai suatu periode perkembangan identitas di mana individu berusaha melakukan eksplorasi terhadap berbagai alternatif yang bermakana.

Identity Diffusion (penyebaran identitas)

 

 

Remaja belum mempunyai pengalaman dalam suatu krisis, tetapi telah menunjukkan sedikit perhatian atau komitmen terhadap pilihan pekerjaan, agama dan politik.

Identity Foreclosure (Pencabutan Identitas)

 

 

Remaja dalam kategori ini telah membuat suatu komitmen tetapi belum mengalami suatu krisis identitas.

Identity Moratorium (Penundaan Identitas)

 

Dalam kategori ini, remaja tengah berada dalam krisis, secara aktif berjuang membentuk komitmen-komitmen dan mengikat perhatian terhadap hasil kompromi. Namun, masih belum ada komitmen yang jelas terhadap identitas tertentu.

Identity Achievement (Pencapaian Identias)

 

Kondisi remaja pada saat ini telah mengalami krisis identitas dan berhasil membuat komitmen.

 

  1. Perkembangan Kepribadian pada Masa Remaja

Banyak remaja menggunakan standar kelompok sebagai dasar konsep mereka mengenai kepribadian “ideal” terhadap mana mereka menilai kepribadian mereka sendiri. Tidak banyak yang merasa dapat mencapai gambaran yang ideal ini dan mereka yang tidak berhasil ingin mengubah kepribadian mereka.

Keberhasilan remaja dalam usaha untuk memperbaiki kepribadiannya bergantung pada banyak faktor. Pertama, ia harus menentukan ideal-ideal yang realistic dan dapat mereka capai. Kedua, remaja harus membuat penilaian yang realistik mengenai kekuatan dan kelemahannya. Ketiga, para remaja harus mempunyai konsep diri yang stabil. Keempat, remaja harus merasa cukup puas dengan apa yang mereka capai dan bersedia memperbaiki prestasi-prestasi di bidang-bidang yang mereka anggap kurang.


Daftar Pustaka:

Desmita. (2013). Psikologi Perkembangan. Bandung: Rosdakarya.

Hurlock, Elizabeth B. (1980). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

Santrock, John W. (2011). Life-Span Developement (Perkembangan Masa Hidup). Jakarta: Erlangga.

Santrock, John W. (2007). Remaja (Edisi 11). Jakarta: Erlangga.

Advertisements

Tunjukkan gigimu.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s