Sekolah dan Berkeluarga, Manakah yang lebih penting?


graduates

Semalam ada salah seorang teman saya yang memasang status di BBM, “pengen lanjut S1 tapi takut nantinya di tengah jalan malah gak nutut”

Pilihannya adalah sekolah apa keluarga?

Kebetulan teman saya ini sudah berkeluarga dan sebelumnya telah menyelesaikan pendidikan D3 nya sambil mengurusi keluarga. Setahu saya dia memiliki seorang anak balita.

Hidup memang perlu perjuangan dan pengorbanan.

Jangan takut melangkah maju, namun yang terpenting adalah jangan maju dalam keadaan ragu.

Saat berkeluarga, waktu bukan menjadi satu-satunya hambatan dalam meniti karir atau melanjutkan pendidikan yang diimpikan, namun juga dalam hal finansial. Terlebih jika memang dari awal pernikahan sudah ada komitmen untuk berjuang bersama-sama dalam membangun rumah tangga secara finansial. Penghasilan dari suami hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sementara sang anak juga mendekati masa-masa sekolah. Tak hanya uang yang perlu dipikirkan, namun quality time dengan keluarga pasti juga harus dikorbankan. Anak-anak perlu perhatian, terlebih pada masa-masa emasnya. Apabila kebutuhan anak-anak (seperti kasih sayang dan perhatian) dari kedua orang tua tidak terpenuhi, maka akan berakibat buruk bagi perkembangan psikologis anak tersebut.

Jadi, apabila saya sangat ingin melanjutkan studi saya, apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus mengorbankan mimpi tersebut demi keluarga?

Tak bisa dipungkiri, bertambahnya usia, semakin banyak pula tanggung jawab yang harus kita emban. Memempatkan diri kita pada sebuah komitmen jangka panjang (pernikahan misalnya) bukanlah hal yang mudah apabila kita masih memiliki mimpi-mimpi untuk diwujudkan. Karena, saat kita sudah berkomitmen, maka banyak pula hal yang harus dikorbankan—tak terkecuali impian untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Lalu, bagaimana solusinya?

Sejujurnya, apabila kita memiliki keinginan yang begitu kuat, segalanya pasti ada jalan keluarnya.

Jika kita memang benar-benar ingin melanjutkan pendidikan demi masa depan yang lebih baik, tidak hanya untuk diri sendiri namun juga untuk kehidupan rumah tangga, tidak perlu mengorbankan keluarga. Banyak di luar sana lulusan sarjana S1 yang berumur tiga puluhan lebih dan memiliki banyak anak. Mungkin sekarang bisa fokus untuk menyekolahkan anak-anak, namun sambil berjalan pelan-pelan kita bisa menabung untuk bisaya melanjutkan S1. Apabila anak dirasa sudah cukup besar untuk bisa ditinggal dan dialihkan perhatiannya ke hal-hal lain (misal sekolah, hal-hal akademis maupun non akademis), maka dengan dana yang sudah terkumpul kita bisa melanjutkan kuliah yang selama ini diimpi-impikan. Atau, apabila gelar sarjana menurut kita tidak terlalu diperlukan dan lebih memfokuskan diri pada bidang keahlian tertentu, kita juga bisa mengambil kursus singkat di sela-sela kesibukan mengurus rumah tangga. Misalnya kursus akuntansi atau design.

“If there is a will, there is a way.”

Advertisements

Tunjukkan gigimu.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s