[BAB 1] Hakekat Psikologi Perkembangan & Perkembangan Pranatal


lifespan_logo_final_2x

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

TAHAPAN, TEORI PERKEMBANGAN & PERKEMBANGAN PRANATAL

DISUSUN OLEH

SYATI’UL INAYAH

1511600035

JURUSAN PSIKOLOGI

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS SURABAYA

SEPTEMBER 2016

(Because sharing is caring)

Hakekat Perkembangan

  1. Pengertian perkembangan

Istilah perkembangan berarti serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. (Hurlock, 1980). Tidak hanya mengalami perubahan secara kualitatif, namun menurut Van den Daele “perkembangan berarti perubahan secara kualitatif” jadi, tolak ukur perkembangan bukan hanya dinilai dari tinggi badan, berat badan atau kemampuan seseorang namun juga harus mempertimbangkan proses penyatuan struktur-struktur dan fungsi yang kompleks. Sedangkan menurut Santrock (2012) perkembangan (development) yaitu pola pergerakan/perubahan yang dimulai sejak masa pembuahan & terus berlangsung selama hidup manusia.

Pada dasarnya ada dua proses perkembangan yang saling bertentangan yang terjadi secara serempak selama kehidupan, yaitu pertumbuhan atau evolusi dan kemunduran atau involusi. Pertumbuhan dan kemunduran terjadi secara terus menerus sejak seseorang dilahirkan hingga kematian. Pertumbuhan yang terjadi seperti kemampuan berpikir akan berakhir pada titik tertentu dan kemudian digantikan oleh peran kemunduran. Karena manusia tidak pernah statis dan selalu mengalami perubahan baik secara fisik maupun psikologis selama masa hidupnya.

  • Prinsip-prinsip perkembangan

Menurut Hurlock, prinsip-prinsip dalam perkembangan dibagi menjadi sepuluh:

  1. Dasar-dasar Permulaan Adalah Sikap Kritis

Sebuah sikap, kebiasaan, dan pola perilaku yang dibentuk selama tahun-tahun pertama, sangat menentukan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika mereka bertambah tua. Artinya adalah perilaku yang dibentuk pada awal-awal kehidupan manusia akan cenderung sangat penting karena pada saat ini adalah masa awal dimana seorang individu akan mulai membentuk suatu karater dan kebiasaan-kebiasaan yang nantinya akan dibawa selama masa-masa perkembangan berikutnya.

  1. Peran Kematangan dan Belajar dalam Perkembangan

Kematangan adalah terbukanya sifat-sifat bawaan individu. Seperti dalam fungsi phylogenetik yaitu merangkak, duduk, dan berjalan berasal dari kematangan. Sedangkan belajar adalah perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha pada pihak individu. Dalam fungsi ontogenetik yaitu menulis, mengemudi, berenang dan belajar dalam bentuk pelatihan sangatlah penting. Tanpa fungsi-fungsi tersebut perkembangan tidak akan dapat terjadi secara sempurna.

Perbedaan-perbedaan individu dalam kepribadian, sikap-sikap dan pola-pola perilaku terjadi bukan karena kematangan saja tetapi juga dari kematangan dan belajar.

  1. Perkembangan Mengikuti Pola yang Tertentu dan yang Dapat Diramalkan

Bahwa manusia berkembang melalui tahapan-tahapan yang secara sistemeatis sudah diperkirakan sebelumnya. Seperti yang dipaparkan dalam hukum arah perkembangan—yang disebut “hukum cephalocau-dal” yang menyatakan bahwa perkembangan menyebar ke seluruh tubuh dari kepala ke kaki dan “hukum proximodistal” yang menyatakan bahwa perkembangan menyebar keluar dari titik poros sentral tubuh ke anggota-anggota tubuh. Misalnya bayi akan terlebih dahulu belajar merangkak kemudian berjalan dan akhirnya berlari.

  1. Semua individu berbeda

Seperti yang ditekankan oleh Dobzhansky, “Setiap orang secara biologis dan genetis bernar-benar berbeda dari yang lainnya, bahkan dalam kasus bayi kembar.” (30) Tak ada satu individupun yang sama di dunia ini, walaupun mereka akan diberi rangsangan yang sama, namun respon mereka terhadap rangsangan tersebut berbeda-beda walau dalam lingkungan yang sama. Misalnya, tak semua anak akan ketakutan terhadap kegelapan jika anak tersebut bersifat pemberani.

  1. Setiap Tahap Perkembangan Mempunyai Perilaku Karakteristik

Apabila individu dengan mudah menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan dan berhasil mengadakan penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial yang baik, maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut mengalami pola equilibrisum. Sedangkan, apabila mereka mengalami kesulitan dalam penyesuaian yang mengakibatkan penyesuaian pribadi dan sosial menjadi buruk, maka individu tersebut mengalami pola disequilibrium.

  1. Setiap Tahap Perkembangan Mempunyai Resiko.

Bahwa setiap perkembangan manusia memiliki resiko tersendiri tergantung pada lingkungan dimana individu tersebut dibesarkan. Apabila salah satu tahapan perkembangan tersebut gagal dicapai, maka akan menimbulkan kegagalan dalam tahapan selanjutnya.

  1. Perkembangan dibantu oleh adanya rangsangan.

Rangsangan dari lingkungan juga berperan penting dalam proses perkembangan. Misalnya, dalam kasus bayi prematur. Bayi yang lahir secara prematur akan cenderung lebih cepat berkembang apabila diberi rangsangan-rangsangan yang dibutuhkan dibandingkan dengan bayi-bayi prematur yang tidak diberi rangsangan. Dalam kasus anak-anak, seorang anak yang terus menerus diberi rangsangan berbicara oleh kedua orang tuanya akan cenderung mendapat motivasi untuk dapat berbicara lebih cepat. Sedangkan dalam fase lanjut usia, rangsangan ini dapat digunakan untuk membantu memperlambat kemunduran fisik dan mental.

  1. Perkembangan dipengaruhi oleh Perubahan Budaya

Perkembangan pada zaman sekarang berbeda dengan zaman dahulu karena perkembangan kita cenderung menyesuaikan pada norma-norma, adat dan budaya yang berlaku pada saat tersebut.

  1. Harapan Sosial pada Setiap Tahap Perkembangan

Setiap masyarakat pada kelompok tertentu cenderung mengharapkan seorang individu dapat menguasai keterampilan tertentu sehingga mendapat penerimaan dan persetujuan dari kelompok tersebut.

  1. Keyakinan Tradisional akan Manusia pada Semua Tingkat Usia

Keyakinan akan ciri-ciri fisik dan psikologis ini mempengaruhi penilaian orang lain maupun evaluasi diri sendiri. Misalnya penialian terhadap orang lanjut usia akan cenderung negatif daripada orang dewasa atau anak-anak.

  • Tugas-tugas perkembangan

Menurut Havinghurst, tugas perkembangan adalah “tugas yang muncul pada saat atau sekitar suatu periode tertentu dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi, kalau gagal, menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya.”

Tugas-tugas perkembangan sepanjang rentang kehidupan menurut Havinghurst adalah:

Masa Bayi dan Awal Masa Kanak-kanak

  • Belajar memakan makanan padat
  • Belajar berjalan
  • Belajar berbicara
  • Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh
  • Mempelajari perbedaan seks dan tata caranya
  • Mempersiapkan diri untuk membaca
  • Belajar membedakan benar dan salah, dan mulai mengembangkan hati nurani

Akhir Masa Kanak-kanak

  • Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan yang umum.
  • Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh.
  • Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya.
  • Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat.
  • Mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar untuk memaca, menulis dan berhitung.
  • Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata dan tingkatan nilai
  • Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga
  • Mencapai kebebasan pribadi

Masa Remaja

  • Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita
  • Mencapai peran sosial pria dan wanita
  • Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif
  • Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab
  • Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya
  • Mempersiapkan karier ekonomi
  • Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
  • Memperoleh perangkat nilai dan sistem sebagai pegangan untuk berperilaku—mengembangkan ideologi

Awal Masa Dewasa

  • Mulai bekerja
  • Memilih pasangan
  • Belajar hidup dengan tunangan
  • Mulai membina keluarga
  • Mengasuh anak
  • Mengelola rumah tangga
  • Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara
  • Mencari kelompok sosial yang menyenangkan

Masa Usia Pertengahan

  • Mencapai tanggung jawab sosial dan dewasa sebagai warga negara
  • Membantu anak-anak remaja belajar untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan bahagia
  • Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang untuk orang dewasa
  • Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai suatu individu
  • Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi pada tahap ini
  • Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karier pekerjaan
  • Menyesuaikan diri dengan orang tua yang semakin tua

Masa Tua

  • Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan
  • Menyesuaiakan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya income (penghasilan) keluarga
  • Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup
  • Membentuk hubungan dengan orang-orang yang seusia
  • Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan
  • Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes
  • Metode penelitian perkembangan

Menurut Monk, metodologi penelitian perkembangan adalah cara-cara yang digunakan untuk mendapatkan lebih banyak gejala-gejala pada perkembangan dan mengeksplore hambatan-hambatan yang terjadi pada perkembangan.

Ada beberapa metode yang digunakan dalam meneliti perkembangan:

  1. Pendekatan Umum

Pendekatan yang digunakan oleh sang peneliti yang memberi banyak data mengenai keseluruhan perkembangan secara umum. Ada beberapa metode yang termasuk kedalam pendekatan umum:

  • Pendekatan Cross-sectional

Pendekatan yang digunakan dalam sebuah kelompok usia tertentu dan dilakukan dalam waktu yang singkat. Contohnya, penelitian perkembangan pada sekelompok anak berusia sekitar 5-10 tahun, remaja awal, dewasa, dan lain sebagainya.

  • Pendekatan Longitudinal

Pendekatan penelitian yang dilakukan dengan cara menyelidiki individu dalam jangka waktu yang lama. Contohnya: perkembangan seseorang dari lahir sampai mati atau dalam rentang waktu tertentu (masa kanak-kanak, remaja, dewasa, tua)

  • Pendekatan Squensial

Pendekatan penelitian yang dilakukan dengan menggabungkan metode cross-sectional dan longitudinal. Contohnya: Sang peneliti akan terlebih dahulu meneliti sekelompok individu kemudian setelah mendapatkan gambaran umumnya, pada waktu yang berbeda sang peneliti akan meneliti kembali individu tersebut secara terpisah dari kelompoknya.

  • Pendekatan Cross-culture

Pendekatan yang mempertimbangkan faktor lingkungan dan kebudayaan yang berbeda-beda dan berpengaruh pada perkembangan. Contohnya: perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan yang ditemui dalam tiap kelompok individu yang berbeda latar belakang kebudayaan.

  1. Pendekatan Spesifik

Yaitu cara khusus yang digunakan sang peneliti untuk mengetahui gejala-gejala perkembangan yang timbul dalam diri individu.

  • Metode Observasi

Metode yang digunakan dengan cara mengamati semua perilaku yang terlihat dan dilakukan dalam jangka waktu tertentu.

  • Metode Eksperimen

Metode yang digunakan dengan cara melakukan penelitian-penelitian kepada individu yang diteliti perkembangannya.

  • Metode Klinis

Metode yang menggabungkan kedua aspek tersebut yaitu observasi & eksperimen. Contohnya: seorang individu akan terlebih dahulu diobservasi sebelum sang peneliti melakukan eksperimen kepada individu tersebut untuk memperkuat hasil observasi.

  • Metode Tes

Metode yang digunakan dengan cara mengadakan pengukuran-pengukuran pada individu menggunakan instrumen-instrumen yang relevan dengan subjek penelitian.

Teori-teori dasar perkembangan:

  1. Nature

Teori yang mempercayai bahwa perilaku itu diturunkan atau diwariskan oleh leluhur dan nenek moyang kita melalui proses genetika (hereditas). Tokoh yang mempelopori teori ini adalah Edward L. Thorndike (1903). Beliau percaya bahwa yang dalam kehidupan mausia, faktor yang menentukan adalah gen dan karakteristik.

  1. Nurture

Teori ini mempercayai bahwa perilaku itu dibentuk oleh lingkungan tempat kita tinggal. J.B Waston, yang merupakan pelopor teori tersebut mengatakan bahwa pada dasarnya manusia terlahir seperti selembar kertas putih (tabula rasa/clean slate) kemudian proses pengalaman dan belajarlah yang akan membentuk perilaku individu tersebut.

  1. Konvergensi

Teori yang mempercayai bahwa perilaku tidak hanya diturunkan (hereditas) namun lingkungan juga berperan penting dalam pembentukan perilaku pada seorang individu. Teori ini menekankan bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki sifat-sifat atau karakteristik bawaan yang diturunkan namun apakah sifat itu akan berkembang, tergantung pada lingkungan yang membesarkannya.

Paham lain menyebutkan bahwa, teori ini merupakan gabungan dari Empirisme yaitu rangsangan yang diterima oleh indra kita kemudian diproses sebagaimana harapan yang diinginkan oleh lingkungan.

  1. Etologi

Etologi berasal dari kata Yunani yang berarti Etos atau kebiasaan. Teori ini menyatakan bahwa perilaku dipengaruhi oleh efek bologis yang terkait dengan evolusinya.

  1. Kognitif

Teori ini mempelajari dengan pendekatan yang berfokus pada bagaimana orang berpikir, memahami dan mengetahui tentang dunia. Penekanannya terletak pada mempelajari bagaimana manusia memahami dunia luar dari dalam diri mereka dan bagaumana cara berpikir kita tentang dunia mempengaruhi perilaku kita.

Dalam pandangan ini, banyak psikolog yang membandingkan manusia dengan sistem kerja komputer dimana tugasnya adalah menerima dan memproses informasi kemudian mengubah, menyimpan kemudian memanggilnya kembali. Dalam pandangannya, berpikir adalah memproses informasi. Elemen umum yang menautkan pendekatan-pendekatan kognitif adalah penekanan pada bagaimana seseorang memahami dan memikirkan tentang dunia dan suatu ketertarikan untuk menggambarkan pola dan ketidakteraturan cara kerja pikiran kita.

Piaget (1954) berpendapat bahwa ada empat tahap yang kita lalui ketika kita memahami dunia dengan cara kognitif:

  1. Tahap sensorimotor (0-2 tahun)

Dalam tahap ini, seorang bayi mulai membangun pemahaman mengenai dirinya dengan menggabungkan pengalaman-pengalaman sensorik (melihat dan mendengar)

  1. Tahap Praoperasi (2-7 tahun)

Dalam tahap kedua ini, menurut Piaget anak-anak mulai dapat melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar.

  1. Tahap operasi konkret (7 – 11 tahun)

Anak-anak dalam tahap ini sudah dapat bernalar secara logis mengenai peristiwa-peristiwa yang konkret dan mengklasifikasikan objek-objek ke dalam bentuk yang berbeda.

  1. Tahap Operasi Formal (11 – 15 tahun)

Ini merupakan tahapan terakhir menurut Piaget, pada tahap ini seorang remaja melampaui pengalaman-pengalaman konkret dan mampu berpikir secara abstrak dan logis.

  1. Moral

Pada teori ini, mempercayai bahwa perkembangan manusia didasari oleh dilema-dilema atau pengalaman-pengalaman moral yang dialami individu tersebut selama masa hidupnya. Orang dengan pengalaman moral yang lebih banyak akan lebih mudah mengambil keputusan yang diharapkan oleh lingkungannya.

  1. Psikoseksual

Freud yang merupakan pelopor teori psikoseksual, yakin bahwa setiap anak menjalani urutan yang sama di tahap perkembangan mereka, dan pengalaman-pengalaman anak di tahap-tahap ini menentukan karakteristik kepribadiannya saat dewasa nanti. Tahapan-tahapan tersebut adalah:

  1. Fase Oral (0-1 tahun)

Fase ini muncul pada tahun pertama kehidupan dimana titik kenikmatan seseorang berada pada mulutnya. Kesenangan itu umumnya muncul berupa aktivitas-aktivitas menghisap, mengemut dan menelan.

  1. Fase Anal (1-2/3 tahun)

Pada tahun kedua kehidupan, fase ini muncul dengan titik kenikmatan yang terletak pada dubur/anusnya yaitu saat keluarnya fases. Anak-anak pada tahap ini akan diajarkan bagaimana cara menggunakan toilet.

  1. Fase Falik (2/3-5/6 tahun)

Titik kenikmatan pada fase ketiga ini berada pada kemaluannya. Anak-anak akan mulai suka memainkan alat kelaminnya (masturbasi) dan mulai dapat membedakan jenis kelamin dan kegunaanya.

  1. Fase Laten (5/6 – 12/13 tahun)

Pada Fase ini, ketertarikan seksual pada anak-anak akan tergantikan dengan aktivitas-aktivitas pengganti seperti belajar, klub olah raga atau musik atau bermain dengan teman-teman sebayanya.

  1. Tahap Genital

Tahap terakhir ini adalah tanda awal masa pubertas. Seperti anak perempuan akan mulai tumbuh besar payudaranya dan anak laki-laki akan mulai keluar jakunnya.

  1. Psikososial (Erikson)

Salah satu prinsip yang dikemukakan oleh Erikson adalah bahwa perkembangan manusia tidak bergantung pada satu elemen dengan waktu tertentu saja. Namun, seluruh elemen memiliki waktunya untuk berkembang hingga membentuk suatu kesatuan yang berfungsi.

Konsep-konsep terkenal Erikson mengenai perkembangan kepribadian yaitu:

Kepercayaan dasar versus Kecurigaan dasar

Ini merupakan tahap awal dimana mereka mempelajari dari ibu mereka. Apakah mereka harus percaya pada orang tertentu dan tidak. Ini merupakan dasar dan proses penting yang nantinya akan membentuk perilakunya kelak. Selain kepercayaan pada orang lain, bayi juga akan belajar mempercayai dirinya sendiri.

Otonomi versus Perasaan Malu dan Keragu-raguan

Pada tahap ini anak akan mulai belajar untuk mengungkapkan keinginan mereka dan dapat memutuskan mana yang benar dan yang tidak. Sebaliknya, sifat negatif yang juga akan dipelajari pada tahap ini adalah perasaan negatif yang menghambat rasa kebebasan anak yaitu perasaan malu dan keragu-raguan. Perasaan tersebut akan menjadi negatif apabila orang tua terlalu menanamkan rasa malu secara berlebihan. Sehingga, anak akan lebih pasif dan tidak berani mengungkapkan keinginan/pendapatnya.

Inisiatif versus Kesalahan

Inisiatif ialah keinginan untuk berbuat sesuatu yang didasari oleh sifat otonomi. Pada tahap ini anak akan lebih aktif untuk belajar dan bereksplorasi. Jika gagal, mereka juga akan merasakan kegagalan yang dapat menimbulkan rasa bersalah.

Kerajinan versus Inferioritas

Setelah bereksplorasi, anak-anak biasanya mulai bekerja dengan peralatan-peralatan untuk memuaskan mereka. Pada tahap ini, anak akan belajar untuk bekerja secara metodis, yaitu mengamati dan mempelajari sesuatu hal yang akan menimbulkan rasa puas terhadap kesempurnaan yang mereka hasilkan. Buruknya, jika anak tersebut gagal maka mereka juga akan merasa inferior atau rendah diri.

Identitas versus Kekacauan Identitas

Pada tahap ini anak sudah memasuki masa remaja yang identik dengan pencarian jati diri. Disini mereka akan dengan sepenuhnuhnya berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Mereka mulai memiliki perasaan bahwa mereka dapat menjadi sesuatu di masyarakat.

Jika mereka tidak berhasil melakukan hal tersebut, maka mereka dapat mengalami kekacauan identitas/krisis identitas yaitu mereka merasa bahwa masyarakat memaksa mereka untuk menjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan sehingga mereka pun bersifat menentang dan memberontak. Biasanya ditunjukan dalam sikap-sikap berkebalikan dari yang diharapkan.

Keintiman versus Isolasi

Keintiman tumbuh pada masa dewasa awal (young adult). Mereka mulai merasakan keinginan untuk berhubungan lebih intim/akrab dengan individu lainnya. Pada tahap ini, mereka akan mulai mengembangkan gairah seksual dalam hubungan timbal balik dengan orang yang mereka cintai. Lawan dari perasaan tersebut adalah isolasi yaitu menarik diri dari lingkungan karena ketidak inginan untuk terlibat keintiman dengan individu lainnya.

Generativitas versus Stagnasi

Pada masa dewasa akhir ini, individu akan mulai memiliki rasa berbagi, kasih sayang terhadap apa yang mereka hasilkan, serta mencurahkan perhatian mereka. Biasanya, pada tahap ini mereka akan melimpahkan perasaan tersebut pada anak-anak/keturunan mereka. Keinginan untuk dapat mengajarkan apa yang sudah mereka ketahui semasa hidupnya. Namun hal ini juga akan menimbulkan rasa ingin menguasai yang besar sehingga akan menyebabkan hal negatif untuk individu lainnya.

Integritas versus Keputusasaan

Ini adalah tahap terakhir perkembangan manusia menurut Erikson. Integritas sendiri adalah kemampuan untuk memelihara ide-ide, produk-produk maupun prinsip-prinsip yang sudah dihasilkan/dipelajari dari keberhasilan atau kegagalan yang telah dialami. Keputusasaan akan timbul jika individu tersebut tidak dapat menghadapi perubahan-perubahan di masa dewasa akhir mereka. Juga kegagalan untuk melestarikan produk yang sudah mereka hasilkan.

  1. Belajar

Teori ini membahas tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman yang nantinya akan membentuk perkembangan individu tersebut. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (S-R). Seseorang dikatakan telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.

  1. Bahasa

Chomsky (1974) mengatakan bahwa individu dilahirkan dengan alat penguasaan bahasa (Language Acquisition Decive) LAD dan menemukan sendiri cara kerja bahasa tersebut. Dalam belajar bahasa, individu memiliki kemampuan tata bahasa bawaan untuk mendeteksi kategori bahasa tertentu. Menurut Chomsky, manusia mengalami beberapa tahap perkembangan bahasa:

  1. Bahasa Awal (0 – 0.3 bulan)

Tahap awal perkembangan bahasa yang dimulai sejak lahir. Pada saat ini, bayi sudah dapat menggerakan anggota tubuh sebagai response atas suara-suara yang didengarnya.

  1. Tahap Pralinguistik (0,3 – 1 th)

Bayi akan mengeluarkan ocehan-ocehan yang tidak jelas namun memiliki fungsi komunikatif sebagai respon atas kontak verbal yang disampaikan oleh orang disekitarnya.

  1. Tahap Halofrastik (Kalimat Satu Kata) (1-1,8 tahun)

Pada tahun pertama ini, bayi akan mencoba mengucapkan kata pertamanya yang dianggap satu kalimat penuh mencakup aspek psikologis. Contohnya ucapan “ibu” dapat berarti, “ibu, kemarilah.” Atau “Ibu aku lapar” dan lain sebagainya.

  1. Tahap kalimat dua kata (1,8 – 2 tahun)

Umumnya, pada masa ini anak akan berusaha untuk mengucapkan lebih dari satu kata saat anak tersebut mulai mengerti lingkungannya dan berusaha untuk mengekspresikan dirinya.

  1. Tahap Perkembangan Tata Bahasa (2-5 tahun)

Anak pada tahap ini sudah mengerti perbedaan dalam menggunakan kata-kata dan kalimat.

  1. Tahap Perkembangan Tata Bahasa Menjelang Dewasa (5-10 tahun)

Pada tahap ini anak mulai mengembangkan struktur tata bahasa yang lebih rumit, melibatkan gabungan kalimat sederhana.

  1. Tahap Kompetensi Lengkap (11 tahun – Dewasa)

Pada masa akhir ini, pendaharaan bahasa anak-anak sudah mulai meningkat dan gaya bahasa anak tersebut mengalami perubahan menjadi semaki lancar dan fasih dalam berkomunikasi dengan tata bahasa dan ejaan yang benar.

Perkembangan masa Pranatal:

Kehamilan terjadi saat satu sel sperma dari laki-laki menyatu dengan ovum (sel telur) di saluran telur (tuba falopi) dalam sebuah proses yang disebtu fertilisasi (fertilization). Setelah beberapa bulan, kode genetik mulai mengarahkan serangkaian perubahan pada sel telur yang telah dibuahi. Pada umumnya, perkembangan pranatal dimulai dengan fertilisasi dan diakhiri dengan kelahiran yang berlangsung selama 266 hari (38 minggu) sejak pembuahan. Perkembangan fase prenatal dibagi menjadi tiga fase yaitu (germinal, embrio dan janin).

  • Germinal (sejak perubahan sampai akhir minggu kedua)

Fase germinal merupakan fase perkembangan prenatal yang terjadi pada dua minggu pertama setelah proses pembuahan. Sel telur yang telah dibuahi pada fase ini disebut zigot, sel tersebut akan terus membelah dan melekat pada dinding uterus.

Sekumpulan sel yang membelah (blastosis) terdiri dari inti sel yang kemudian akan berkembang menjadi embrio dan trofoblas. Zigot memperoleh nutrisinya melalui lapisan luar sel yang terus menyuplai nutrisi. Menempelnya zigot pada dinding uterus akan terjadi pada 10-14 hari setelah proses pembuahan.

Berikut merupakan jadwal waktu perkembangan prenatal (zigot) menurut Hurlock:

  1. Bentuk zigot sebesar kepala peniti—tidak berubah karena tidak mempunyai sumber makanan dari luar; hidupnya dipertahankan kuning telur.
  2. Dengan berjalannya zigot dari tuba Fallopi turun ke uterus, terjadi banyak pembelahan dan zigot terbagi menjadi lapisan luar dan lapisan dalam
  3. Lapisan luar kemudian berkembang menjadi placenta (ari-ari), tali pusar, dan selanjutnya pembungkus janin: lapisan dalam berkembang menjadi manusia baru.
  4. Sekitar sepuluh hari setelah pembuahan, zigot tertanam di dalam dinding uterine.
  • Embrionik (akhir minggu kedua sampai akhir bulan kedua-berdasarkan perhitungan bulan)

Fase embrio terjadi pada usia 2-8 minggu sejak masa pembuahan. Selama fase ini, kecepatan dalam proses pembedaan sel semakin intensif, sistem pendukung pada sel mulai terbentuk dan organ-organ tubuh mulai terlihat. Fase ini dimulai saat blatosis mulai melekat pada dinding uterus. Pada saat inilah sel tersebut dapat disebut embrio yang memiliki tiga lapisan dalam sel: Endoderma (lapisan yang akan berkembang menjadi sistem pencernaan dan pernapasan), Mesoderm (lapisan yang berada di tengah dan akan membentuk jaringan sirkulasi, tulang, otot, sistem ekskretoris, dan sistem reproduksi), Ektoderma (lapisan paling luar yang akan membentuk sistem saraf, reseptor sensoris (telinga, hidung, mata), dan kulit.

Setiap bagian tubuh terbentuk dari ketiga lapisan ini.

Organ yang tubuh dengan pesat pada tahap ini adalah amnion (kantong ketuban), tali pusar (kedua organ dibentuk oleh telur yang dibuahi dan bukan bagian dari tubuh ibu) dan plasenta. Amnion berisi sebuah cairan yang menjadi tempat dimana embrio berkembang. Cairan ini berfungsi untuk tingkat kelembaban, suhu dan sebagai alat penahan kejutan. Tali pusar terdiri atas dua arteri dan satu vena yang menghubungkan bayi dengan plasenta. Sedangkan plasenta sendiri berisi sekelompok jaringan yang berbentuk seperti piringan yang terdiri dari pembuluh darah kecil yang terangkai antara ibu dan bayinya.

Pada saat ini pula akan terjadi Oragonesis, yaitu proses pembentukan organ selama dua bulan pertama perkembangan prenatal. Selama ini proses pembentukan, organ-organ sangat rentan terhadap perubahan lingkungan (Mullis & Tonella, 2008). Pada minggu ketiga setelah pembuahan, saluran saraf berubah bentuk menjadi saraf tulang beakang. Saat memasuki 21 hari, mata mulai terbentuk, dan pada 24 hari, sel yang membentuk jantung mulai berdiferensiasi. Selama minggu ke empat, sistem urogenital mulai terbentuk, dan lengan dan kaki mulai muncul. Empat ruang jantung mulai terbentuk, dan muncul pembuluh darah. Pada minggu kelima sampai ke delapan, lengan dan kaki mulai berdiferensiasi lebih lanjut; pada masa ini, wajah mulai berbentuk, namun belum terlalu dapat dikenali.

Berikut merupakan jadwal waktu perkembangan prenatal (embrio) menurut Hurlock:

  1. Embrio berkembang menjadi manusia dalam bentuk kecil.
  2. Terjadi perkembangan besar, mula-mula di bagian kepala dan terakhir pada anggota tubuh.
  3. Semua bagian tubuh yang penting, baik bagian luar maupun dalam, sudah terbentuk.
  4. Embrio mulai bergerak di dalam uterus, dan terjadi gerakan-gerakan spontan dari anggota tubuh.
  5. Placenta (ari-ari), tali pusar dan selaput pembungkus janin berkembang; keduanya melindungi dan memberi makan embrio.
  6. Pada akhir bulan kedua prenatal, berat embrio rata-rata 1 ¼ ons dan panjangnya 1 ½ inci.
  • Fetal (akhir bulan kedua—perhitungan menurut bulan—sampai lahir)

Fase ini merupakan fase perkembangan sebelum kelahiran yang dimulai dua bulan setelah proses pembuahan dan umumnya berlangsung tujuh bulan. Pertumbuhan dan perkembangan semakin menunjukan prosesnya yang luar biasa.

Tiga bulan setelah masa pembuahan, janin mulai tumbuh sepanjang 7,5 cm dan berat mencapai tiga ons. Janin mulai terlihat aktif, menggerakkan kepalanya. Pada bagian wajah, dahi, kelopak mata, hidung dan dagu mulai dapat dibedakan, seperti halnya lengan atas, lengan bawah, tangan dan bagian bawah tubuh. Jenis kelamin antara pria dan wanita juga mulai dapat diidentifikasi. Pada akhir bulan ke4 masa kehamilan, janin semakin berkembang, panjang tubuh mencapai 15 cm dan berat mencapai 4 hingga 7 ons. Saat ini, perkembangan terjadi di tubuh bagian bawah. Untuk pertamakalinya, ibu mulai dapat merasakan gerakan tangan dan kaki.

Pada akhir bulan ke5, panjang janin mencapai 30 cm dan beratnya mulai mencapai 0,5 kg. Struktur pada kulit telah terbentuk, misalnya kuku jari kaki dan tangan. Janin semakin aktif dan mulai memilih posisi tertentu di dalam kandungan. Di akhir bulan ke-6, panjang janin mencapai 35 cm dan berat mulai mencapai 0,7 kg. Mata dan kelopak telah terbentuk dengan utuh dan kepala mulai ditumbuhi rambut. Gerak refleks mulai ada dan mulai terjadi tarikan napas yang belum teratur.

Menjelang 7 bulan, janin sudah memiliki kemampuan untuk hidup di luar kandungan, akan tetapi masih harus dibantu untuk pernapasannya. Kemudian pada akhir bulan ke 7, panjang janin sudah mencapai 40 cm dan beratnya sudah mencapai 1,5 kg.

Pada dua bulan terakhir, jaringan lemak terbentuk dan fungsi beberapa organ—seperti jantung dan ginjal—mulai meningkat. Pada masa 8-9 bulan, janin akan tumbuh semakin besar dan beratnya mulai substansial, sekitar 1,8 kg. Pada saat dilahirkan, berat dan panjang bayi dapat mencapai 3,25 kg dan 50 cm.

Berikut merupakan jadwal waktu perkembangan prenatal (Fatal) menurut Hurlock:

  1. Terjadi perubahan pada bagian-bagian tubuh yang telah terbentuk, baik dalam bentuk/rupa maupun perubahan aktual, dan terjadi perubahan dalam fungsi. Tidak tampak bentuk-bentuk baru pada saat ini.
  2. Pada akhir bulan ketiga, beberapa organ, dalam cukup berkembang sehingga dapat mulai berfungsi. Denyut jantung janin dapat diketahui sekitar minggu kelima belas.
  3. Pada akhir bulan kelima, berbagai organ dalam telah menempati posisi hampir seperti posisi di dalam tubuh dewasa.
  4. Sel-sel saraf, yang ada sejak minggu ketiga, jumlahnya meningkat pesat selama bulan-bulan kedua, ketiga dan keempat. Apakah peningkatan pada saat ini akan terus berlangsung atau tidak, bergantung pada kondisi di dalam tubuh ibu, seperti kekurangan gizi yang sebaliknya mempengaruhi perkembangan sel saraf terutama dalam bulan-bulan terakhir periode prenatal.
  5. Biasanya gerak-gerak janin tampak pertama kali antara minggu kedelapan belas dan dua puluh. Kemudian meningkat cepat sampai akhir bulan kesembilan di mana gerakan mulai berkembang karena penuhnya pembungkus janin dan tekanan pada otak janin pada saat janin mengambil posisi kepala daerah pinggul dalam persiapan untuk lahir. Gerak-gerak janin ini berlainan macamnya. Yaitu menggelinding dan menendang, gerak pendek atau cepat.
  6. Pada akhir bulan ketujuh, janin sudah cukup berkembang dan dapat hidup bila lahir sebelum waktunya.
  7. Pada akhir bulan kedelapan, tubuh janin sudah lengkap terbentuk, meskipun lebih kecil dibandingkan dengan bayi, normal yang cukup bulannya.
  • Otak

Saat bayi dilahirkan, mereka telah memiliki kurang lebih 100 milyar neuron atau sel saraf yang mengatur proses informasi di bagian sel di dalam otak. Selama perkembangan prenatal, neuron bergerak ke tempat yang seharusnya dan mulai saling berhubungan. Saat embrio berkembang di dalam kandungan, sistem saraf mulai berkembang membentuk saluran yang berbeda di bagian belakang embrio.

  • Pengaruh herediter & Lingkungan

Hereditas (bawaan) dan lingkungan saling berinteraksi untuk menghasilkan perkembangan. Genetika perilaku (behavior genetics) adalah bidang yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap perbedaan-perbedaan individu dalam trait dan perkembangan manusia. (Kandler dkk., 2009; Plomin dkk., 2009) Para ahli telah melakukan banyak penelitian untuk mengetahui siapakah yang bertanggung jawab terhadap perbedaan di antara individu.

Kolerasi Hereditas-Lingkungan

Ahli genetika perilaku Sandra Scarr (1993) menjelaskan tiga cara kolerasi hereditas dan lingkungan yang berarti bahwa gen individu dapat mempengaruhi jenis lingkungan yang mereka hadapi:

  1. Kolerasi pasif genotipe-lingkungan

Terjadi karena orangtua biologis yang terhubung dengan anak secara genetis, menyediakan lingkungan untuk membesarkan anak-anak. Misalnya jika orang tua cerdas dan gemar membaca maka anak-anak mereka akan cenderung terampil dan suka membaca karena orang tua yang selalu menyediakan bahan bacaan atau buku-buku untuk dibaca anak-anak mereka.

  1. Kolerasi evokatif genotipe-lingkungan

Terjadi karena karakteristik anak-anak jenis tertentu menyebabkan jenis lingkungan tertentu. Misalnya, anak-anak aktif yang penuh senyum dan ceria lebih banyak mendapatkan respons yang positif daripada yang tidak.

  1. Kolerasi aktif genotipe-lingkungan

Terjadi ketika anak-anak mencari lingkungan yang cocok dan menstimulasi. Mislanya, ketika anak-anak yang suka bersosialisasi akan cenderung mencari tempat yang ramai agar dapat menstimulasi kesukaannya sementara anak-anak yang pemalu tidak melakukannya. Jika anak-anak yang suka bermain musik, maka mereka akan cenderung memilih lingkungan musikal tempat mereka dapat menunjukkan keterampilan mereka dengan sukses.

 

Daftar Pustaka:

 

Hurlock, Elizabeth B. (1980). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

Monks, Franz J (2001). Psikologi Perkembangan: Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Santrock, John W. (2011). Life-Span Developement (Perkembangan Masa Hidup). Jakarta: Erlangga.

Santrock, John W. (2009). Masa Perkembangan Anak (Children). Jakarta: Salemba Humanika.

Advertisements

Tunjukkan gigimu.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s