FILOSOFI HIDUP


teki

Rumput Teki

 

“Aku tidak ingin menjadikan kalian sekuat baja yang congak! Aku tidak ingin menjadikan kalian sekeras balok kayu yang kaku. Tapi aku ingin menjadikan kalian seteguh rumput teki yang rendah hati. Walaupun terinjak-injak oleh kaki-kaki yang tidak berperasaan, tapi akar mereka tertanam kuat dalam tanah. Meskipun dipangkas, mereka akan tumbuh dengan tunas baru yang lebih segar dan lebih kuat” :’)

I LOVE YOU BUNDAAAA :*

Makna kata-kata di atas dalam sekali, bukan?

Saya sih merasa demikian. Buktinya hati sekaku saya pun bisa luluh mendengarnya.

MENGELUH.

Hanya itu yang bisa saya lakukan saat dosen ketjeh badai saya mengatakan bahwasanya *duh* MaKul yang bakalan diajarkan selama tiga tahun kedepan tidaklah semulus jalan beraspal *sejak kapan aspal mulus* saya juga kurang tahu.

Bayangkan saja, remaja ke-boyish-an seperti saya masuk ke sekolah semacam akademi bisnis (yang menurut saya lebih mirip seperti sekolah kepribadian, dimana duduk, makan, ketawa, ngomong bahkan bersin dan kentut-pun diatur).

SAYA SALAH ALAMAT!

Dan sudah terlambat untuk kembali mencari alamat yang benar. Alamat itu sudah terlewat dan gak ada jalur untuk puter balik. Ibaratin aja kayak lewat jalan tol. Begitulah sekiranya.

APA YANG SAYA MAU?

Saya tidak tahu. Nah loh, kok bisa?

Ini hidup saya bukan? Dan saya tidak tahu apapun tentang hidup saya.

Walaupun demikian, ada beberapa hal dalam diri saya yang saya kagumi sejak lama.

Saya selalu melakukan yang terbaik. Suka gak suka. Mau gak mau.

Saya tahu mana yang harus saya prioritaskan.

Saya TIDAK EGOIS. Saya selalu mendahulukan orang lain segala-galanya di atas kepentingan pribadi saya.

Namun, adakalanya saya kebingungan. Saya selalu ingin membahagiakan orang lain di sekitar saya. Dan tanpa saya sadari, itu merenggut kebahagiaan saya sendiri.

Seperti masuk ke akademi bisnis, misalnya saja. Orang tua saya sekali pernah berkata, “Mama dari dulu ingin sekali bisa buka bisnis sendiri. Sungguh beruntungnya jika kelak anak-anak mama bisa meneruskan keinginan mama. Membuka lapangan kerja untuk orang lain, membantu sesama, dan menjadi pemimpin yang rendah hati.”

Oh, dan mama tidak tahu betapa kata-kata itu mengubah hidup saya sampai sekarang.

Acapkali saya mengutuk diri sendiri karena dengan mudahnya ingin menuruti apapun yang orang tua saya inginkan. Tak peduli mungkin seburuk apapun perlakuan mereka pada saya, seandainya saja. Bahkan, jika kelak mereka ‘meniadakan’ saya, keinginan saya untuk membahagiakan mereka tak sedikitpun pudar.

Bagaimana bisa demikian?

Saya juga kurang tahu. Jangan salahkan saya.. Karena saya tidak sedikitpun membiarkan diri saya menjadi egois dan bahagia. Saya tidak bisa. Dan jangan anggap saya hanya berkata ‘saya tidak bisa’ tanpa pernah mau mencoba.

Saya sudah mencobanya. Tapi gagal. Dan saya masih terus mencoba sampai sekarang. Mungkin saja lima, sepuluh, dua puluh tahun kemudian saya akan berubah.

Karena ketegasan saya masih di level yang sangat tidak layak untuk dikemukakan.

Terus, apa hubungannya sama kata-kata di atas?

Nah…

Pas banget waktu Makul PR (Bukan Pekerjaan Rumah apalagi Power Ranger loh ya… melainkan Public Relation) *ah, serius. Saya sih mikirnya, saya salah jalur.. Ibaratnya saya mau ke malang tapi malah nyasar ke perak *oke lupakan.

Nah, pas pelajaran PR. Dosen tiba-tiba aja nanya ke saya. “Sasya kalo di tempat kerja ngapain aja? Paling cumin main game kan?” Sebelumnya saya udah pernah bilang ke dosen saya mengenai pekerjaan saya yang sesungguhnya *not telling again*

(Anyway, ini ceritanya saya ngambil kuliah malem)

Ya saya jawab seadanya, ngecekin email, booking hotel, tiket, nglasifikasi pengeluaran kas dan blah-blah-blah.. Dan saya langsung dapet tatapan mengerikan dari sekeliling saya! *Secara di kelas saya cuman ada 5 orang mahasiswi, jadi saya langsung berasa kayak alien kesasar.

Terus pas dosen saya bilang, image positif kita kepada pimpinan. Pencitraan kita pada pimpinan biasanya bersifat positif, sehingga…. *lo pasti gak mau denger kelanjutannya, karena saya sendiri sebenernya juga gak inget dia ngomong apaan setelahnya* #DOR

Lanjut dosen saya (yang biasa dipanggil bunda), “Contohnya, Sasya pas lagi repot-repotnya ngerjain laporan keuangan *misalnya* tiba-tiba bosnya Sasya calling Sasya gini, ‘Sasya, satu jam lagi ada meeting dengan klien A, B, C dan seterusnya, tolong kamu persiapkan bahan-bahannya sekarang juga, pokoknya pas meeting sudah harus clear.’ Misalnya.” Gitu kata dosen saya. “Terus, Sasya kan nih bingung sementara laporan keuangan itu penting dan harus dikerjakan saat itu juga, Tapi biasanya Sasya pasti akan bilang, ‘Oh, iya pak. Iya. Akan segera saya kerjakan’ dan begitu telpon di tutup. DOR! Keluar semua sumpah serapahnya.”

Dan saya langsung n-g-a-k-a-k setelahnya. Bagaimana tidak, jika itu memang sering saya alami selama ini.

“Kenapa Sasya ketawa? Benar begitu?”

“Enggak bun… Enggak salah..” *Ngakak lagi*

Positif. (+)

Pencitraan yang positif.

Apakah saya selalu mencitrakan orang lain, positif?

Entahlah, kemudian bunda beralih ke salah seorang teman saya yang kebetulan duduk di depan saya. Panggil saja dia Bunga.

“Kalo Bunga, kerja di mana?”

Dengan suara yang begitu lemah lembut dan tampak malu-malu tikus, teman saya tadi menjawab. “Jualan parfum bun, di pasar DTC”

Mungkin dia malu, atau kurang PeDe, atau merasa lemah, atau entah bagaimana, tapi bunda langsung bilang.

“Kok begitu nada suaramu Bunga? Kenapa? Ada yang salahkah dengan jualan parfum?” Tanya bunda.

Dia cuma ketawa garing lalu memalingkan muka dan menunduk malu.

Saya menatapnya lamaaaaa sekali. Pikiran dan perasaan saya berkecamuk hebat! Saya bisa merasakan perasaannya, tapi saya hanya bisa berpositif thinking bahwasanya, dia masih lebih hebat daripada mereka yang cuma bisa menadahkan tangan ke mami papinya sambil pasang tampang melas, “miii… minta duiiit.”

*no offense

Karena jujur, jika tanpa beasiswapun mustahil saya bisa berada di tengah-tengah mereka seperti itu, walaupun pekerjaan saya sekarang ini bisa dibilang menjanjikan. Tapi ini hanya sebatas langkah awal untuk memulai segalanya. Masih terlalu dini untuk bisa dibilang ‘wanita karier’ yang sukses.

Tapi bunda benar! Apapun yang saya dan bunga lakukan saat ini hanyalah langkah awal yang masih ugal-agil *apa ya Bahasa Indonesianya ugal-agil?* pokoknya posisi kita yang sekarang yang masih rawan jatuh, terombang-ambing tidak jelas itu adalah langkah awal untuk menapaki kejamnya dunia yang sesungguhnya. *duh bahasanya*

DUNIA YANG SESUNGGUHNYA.

Lah, emang selama ini saya tinggal dimana?

Kita harus bertahan dari posisi yang ugal-agil tadi. Kita harus terbiasa keblegong *apaan sih*| terperosok!| *aduh ngomong sama tembok sono lo*| iya.. iya.. mengerti!

Iya, kita harus terbiasa terperosok!

Kalo kata Meister Keblegong, “kalau ingin jadi Sekretaris professional, kita harus MAU SORO.”

MAU SORO.

Yang artinya, harus mau dibentak-bentak atasan, mau dibenarkan jika salah, mau mengakui kesalahan dan mau memperbaiki kualitas diri kita masing-masing.

Oh, betapa saya sebenarnya tidak mau soro.

TIDAK MAU SORO = TIDAK MAU JADI SEKRETARIS

Ada satu pertanyaan yang menghantui saya, “memang kenapa kok sekretaris harus mau soro? Memangnya sekretaris harus jadi bukron.”

Ah, ternyata jadi sekretaris itu memang super soro.

  1. Harus Perfek!

Mulai dari appearance (penampilan), knowledge (pengetahuan), intelligent (cerdas), sampai personality (kepribadian) pun harus perfek, perlu digaris bawahi HARUS.

  1. Harus Komunikatif.

Karena yang dihadapin disini bukanlah buku, komputer, apalagi tembok. Tapi MANUSIA. Kita harus belajar memanusiakan manusia jika ingin diorangkan oleh mereka.

Tapi jauh dari itu semua, ada satu hal penting yang asik.

Administrasi sebenarnya bukanlah pekerjaan yang membosankan.

Kita bisa jadi PR (Public Relation), HRD (Human Resource Development), Sekretaris (tentunya), Marketing (ini beda loh ya dengan sales, marketing adalah penyusun strategi pasar bukan memasarkan barang) jauh dari itu semua, kita juga bisa jadi wirausaha.

Dan dari itu semua, menurut saya adalah pekerjaan yang menantang, tidak seperti akutansi yang *yuknowlah* (padahal disini akutansi pun masuk dalam lingkup administrasi) pokoknya yang saya mau itu tidak seperti akutansi. *no offense lagi*

Disini, kita dihadapkan dengan macam-macam orang, macam-macam situasi dan cara penyelesaiannya. I like challenge.

PR adalah satu posisi yang saya incar selain Eksport-Import disini.

Dan untuk mencapai itu semua, saya harus MAU SORO.

Saya harus tahu rasanya dibawah untuk menduduki posisi atas.

Tanpa melaluinya, saya akan melewatkan satu hal terpenting dalam hidup ini. ‘Proses.’

Administrasi adalah Proses, prosedur. Bagaimana cara kita ‘memanage’ apa yang kita punya agar bergaya guna dan berhasil guna. *ngomong apaan sih*

Yawes pokoknya gitulah.

Nah, SORO tadi akan menjadikan kita tough. Kuat.

Kalau kita bisa menghadapi satu tantangan kecil, tidak mustahil kita akan bisa menghadapi tantangan-tantangan lain yang lebih besar. Bukan begitu?

Karena pada sesungguhnya,  semua berawal dari yang kecil.

Dan pada akhirnya semua itu akan mengajarkan kita untuk berbuat kesalahan, karena kebenaran berawal dari kesalahan juga.

Filosofi di atas, bermakna :

Dari rumput teki, kita bisa belajar untuk

Kuat namun TIDAK congak.

Fleksibel dan TIDAK kaku.

Tetap rendah hati.

Semangat untuk berjuang.

Dan…

KEMBALI BANGKIT saat TERJATUH.

Rumput teki mungkin tidak sekuat baja. Yang bisa berkarat dan patah pada akhirnya. Tapi rumput teki memiliki akar-akar kuat yang dapat menopang dirinya dibawah terik matahari dan aspal yang mencoba mengeringkannya.

Rumput teki tidak sekokoh ataupun sekaku balok kayu. Tapi dia fleksibel dan adaptif. Dia bisa tumbuh dimana saja dia mau. Kering dan gersang tak meruntuhkan semangatnya untuk bertahan hidup.

Rumput teki sering diremehkan, karena dia tak seagung pohon jati.

Rumput teki tak mengeluh sekalipun dia diinjak-injak.

Kalaupun dipangkas, dia akan tumbuh kembali menjadi tunas yang baru dan segar.

Semoga kita bisa belajar dari sebuah rumput teki 🙂

By : Sasyaa95

Advertisements

Tunjukkan gigimu.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s