KALAU MEREKA BISA, KENAPA SAYA TIDAK?


for_hinhanh_1

Baru saja beberapa jam yang lalu, saya menyudahi acara fenomenal bersama teman-teman SD saya. Yang kerap disebut ‘reunian’. Reunian disini bertepatan dengan acara buka bersama. Sangat menyenangkan. Awalnya saya cukup skeptis dengan acara tersebut. Mengingat, saya tidak pernah dikata ‘berhasil’ dalam proses yang dikenal sebagai ‘bersosialisasi.’ Menurut saya, itu adalah hal tersulit yang mau tak mau harus saya lakukan. Demi mendpatkan status di mata masyarakat. (Ceile Sya, tau masyarakat juga kagak)

Balik..

Tapi, sayang sekali kali ini yang akan saya bahas bukan tentang Reuni, atau sosialisasi apalagi masyarakat.

Lalu?

Simple, satu kata…

KULIAH

Satu topik yang selalu saya hindari beberapa bulan terakhir. Menengokpun saya tidak sudi.

Saya sakit hati, teramat sakit, terlalu sakit. Sampai-sampai yang dapat saya lakukan hanya berjalan lurus sambil tersenyum. Menganggap seolah rasa ‘sakit’ itu tak pernah ada. Menyugesti diri saya sendiri bahwa rasa ‘sakit’ itu hanya ilusi saya semata.

Saya lari, dan terus berlari.

Tapi, bukankah tak ada satu rasa sakitpun yang hilang karena dilupakan?

Rasa sakit itu akan tetap ada. Sekali kau menyebutnya, dan BUM! Rasa sakit itu kembali muncul. Dengan intensitas yang berkali-kali lipat lebih ekstrim.

Sakit itu semakin sakit. Sakit yang tadinya sudah teramat sakit. Menjadi seribu kali lebih sakit.

Saya memang masokis. Saya hidup bersama berpuluh-puluh rasa sakit yang sudah saya timbun sejak kecil. Rasa sakit ini, sampai detik ini. Sampai saya mengetik pada kata ke dua ratus tiga puluh lima, rasa sakit itu masih ada, terpatri dalam diri saya.

Jangan heran jika saya menyebutkan bahwa saya menyukai rasa sakit itu. Saya suka. Konyol tapi saya suka. Rasa sakit itu membuat saya aman. Saya pikir rasa sakit itu akan membuat saya semakin kuat. Rasa sakit yang menyiksa itu. Rasa sakit yang selalu kuhindari, dan kubiarkan mati suri dalam diri saya. Rasa sakit itu perlahan menggerogoti tubuh saya, saat itulah saya menyadari; mereka tidak mati. Mereka hidup, mereka tumbuh bersama saya.

Hingga pada puncaknya. Barang kali saya memang sudah lelah dengan diri saya.

Malam itu, seharusnya saya bersenang-senang.

DAN SAYA MEMANG SUDAH BERSENANG-SENANG

Tapi rasa senang itu hilang seketika. Ketika kedua teman SD saya, katakanlah si A dan si B (Yang dulunya musuh bebuyutan dari akar hingga ke ubun-ubun, malah justru deketan udah kaya apa gitu) saya tidak mengatakan saya iri, atau cemburu. Saya hanya sakit hati, saya benci orang munafik. Dan kamu—sepolos-polosnya dirimu, kamu adalah sahabat kecilku yang paling munafik sedunia. Kamu baik—dan aku benci kebaikanmu padaku malam ini.

Mengapa kau menawarkan untuk menemaniku jalan sampai rumah saat aku begitu membencimu? Mengapa kau begitu baik padaku saat aku seharusnya sangat—teramat membencimu? Mengapa kau tidak membuatku semakin membencimu saja? Mengapa kau begitu baik padamu? Aku benci! Aku benci kebaikanmu padaku!

Kami bertiga, aku, si A dan si B adalah rival. Sejak SD, kita selalu memperebutkan peringkat 1-3. Dan kamu! Si B! Kamu pasti masih ingat, dulu kamu pernah bilang padaku bahwa kamu begitu membenci si A karena dia selalu mendapat perhatian dan kasih sayang karena dia pintar dan selalu mendapat posisi pertama sedangkan kamu tidak?

Dan kamu si A! Kamu mungkin sudah lupa, dulu kamu selalu datang padaku saat ada masalah. Kamu bilang bahwa kamu tak punya teman selain diriku. Mereka tak mau berteman denganmu karena dulu kamu selalu mendapat sorotan dan karena kesombongan oleh apa yang telah kau dapatkan. Kamu pernah bilang kamu tidak suka si B! Karena dia bisa mendapatkan peringkat karena dia adalah anak orang kaya. Dan kamu pun sering bilang bahwa aku bisa mendapatkan apa yang si B dapatkan seandainya saja pihak sekolah mau bersikap adil.

Dan bodohnya aku, tololnya aku begitu mempercayaimu.

Aku berteman dengan kalian berdua walaupun aku tahu kalian adalah rival sejati. Aku berusaha membuat diriku tetap berada di ‘zona aman’ alias nggak mau terlibat dengan masalah kalian.

Tapi kalian selalu menceritakannya padaku, kalian selalu begitu. Bodohnya kalian tidak menyadari bahwa selama ini aku adalah orang yang selalu memegang ucapan, sekecil apapun.

Bukannya aku tidak senang kalian menjadi akur, tapi kalian jadi melupakanku.  Apa itu salah jika aku cemburu?

Aku tak ingin kalian kembali mengibarkan bendera perang, tapi kalian jadi tidak menganggap kehadiranku. Mungkin aku hanya sebatas pelarian?

Segalanya bertambah menyebalkan saat kalian berkata bahwa kalian berdua dengan ‘mudahnya’ lolos SNMPTN jalur undangan di Universitas yang selalu saya impikan? Di tempat yang selalu hadir dalam mimpi saya.

Hal itu membuat saya kembali berpikir, kenapa saya tidak masuk SMA saja seperti kalian berdua? Alih-alih SMK yang jelas-jelas susah masuk kuliah?

Ah, saya memang tak pernah berpikir sejauh itu.

Memangnya saya pernah berpikir apa yang sebenarnya saya inginkan?

Saya hanya berpikir apa yang orang tua saya inginkan, bukankah begitu?

Saya dengan kebutaan saya mengenai diri saya sendiri, kini terjebak dalam fakultas harapan orang tua saya. Saya hanya ingin membuat kedua orang tua saya bangga pada saya, itu saja.

Kamu, yang berhasil masuk ke Fakultas impian saya, dan saya gagal mendapatkannya.

Ketahuilah, bahwa…

Aku merasa sakit, dan aku menelan rasa sakit itu.

Aku menikmatinya. Aku sudah terbiasa. Sakit membuatku aman. Sakit mengajarkanku banyak hal.

Tapi, mungkin kalian takkan tahu, dan takkan pernah mengerti. Karena saya memang sengaja tidak memberitahukannya. Silahkan lihat senyum saya saja, saya akan tertawa bersama kalian. Seperti biasa, menganggap rasa ‘sakit’ itu tak pernah ada. Menganggap bahwa kita baik-baik saja.

Jika itu memang bisa membuat kalian nyaman, aku tak keberatan. Anggap saja saya tak pernah ada, dan saya akan kembali menyakiti diri saya sendiri. Karena saya sudah terbiasa dengan rasa sakit.

Jika kalian mendapatkan apa yang kalian inginkan, selamat.

Tapi aku takkan menyerah, di mana pun tempat saya saat ini untuk menimba ilmu,

ketahuilah….

Dimanapun dan apapun langkah yang saya ambil sekarang, saya akan melakukan yang terbaik.

Saya mungkin memang belum bisa menjadi yang terbaik, tapi saya akan membuat sekitar saya lebih baik dengan adanya saya di sisi mereka.

Saya berjanji, saya juga bisa berprestasi.

Sesederhana itu.

 

Ps. Saya berjanji, ini adalah terakhir kalinya saya menangisi hal-hal bodoh seperti yang tersebut di atas.

Ps II. Karena terlalu childish maka gambar saya hapus. Thanks.

By: Sasyaa95

Advertisements

Tunjukkan gigimu.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s