Topeng Tembaga


Dengan mata memerah aku menatap lekat sosok yang kini berdiri tepat di hadapanku.
Sorot matanya tak ubahnya diriku, tatapannya begitu tajam dan dingin. Dapat kulihat kebencian dan kesepian di dalamnya. Kurasakan bulu kudukku berdiri seketika. Tak pernah sebelumnya kurasakan takut sedemikian besar.
Sosok itu tak sedikitpun melepaskan tatapannya padaku. Siapakah dia? Mengapa dia menatapku seolah aku ini adalah satu dari sekelompok geng yang hendak menghancurkan seisi rumah?
Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya, tak juga diriku. Kami melanjutkan peperangan ini dalam diam.
Diam, hanya itu yang dapat kulakukan. Aku tahu semua permasalahan ini berawal dariku. Aku yang menyebabkan kami semua terjebak dalam posisi sulit seperti ini. Namun tak semuanya harus dibebankan padaku, kan?
“S-siapa ka-kamu?” Dengan bibir gemetar kupaksakan pertanyaan itu keluar dari kepalaku.
“Kau.” Jawabnya singkat, dan tenang. Begitu tenang namun dingin, sedingin es di musim salju.
“A-aku? Bagaimana bisa?”
“Hahaha…” Sekarang, sosok itu tertawa seolah ia tengah berada di neraka melihat beribu manusia disiksa di dalamnya. “Dan sekarang, kau bahkan tak mengenali dirimu sendiri, huh? Menyedihkan sekali.” Ia kembali melanjutkan tawanya.
“Aku serius.” Jawabku mencoba bertahan, walau gagal karena ketakutanku tak berhasil kusembunyikan dengan sempurna.
“Kau menyedihkan sekali gadis kecil yang malang.” Sekarang, aku seolah tengah terjebak di neraka.
“Ja-Jawab aku! Siapa kau sebenarnya?” Aku tak kuasa lagi menahan amarahku, ingin sekali rasanya ku landaskan tinjuku tepat di wajahnya.
“Sudah kukatakan, aku adalah kau gadis kecil. Kau.. Dirimu.” Ia meletakkan telapak tangannya tepat di dadanya, dimana hati seharusnya berada. Namun, dari tatapan matanya dapat kukatakan bahwa ia tak punya bahkan tak tahu untuk apa hati itu digunakan.
“….”
“Aku adalah kau, Aku adalah bagian darimu yang terlupakan, yang kau abaikan begitu saja, tak pernah sekalipun kau mencoba untuk melihatku, atau sebentar saja mencoba untuk mendengarkan apa kataku. Kau membiarkanku begitu saja, menjadikanku sampah yang tak berguna. Menganggapku seolah aku tak pernah ada, seolah Tuhan tak pernah menciptakanku dalam dirimu sebelumnya. Aku adalah hatimu, hati kecilmu. Bagian terpenting dalam hidupmu. Gadis kecil, kau sudah terlalu jauh meninggalkan dirimu.”
Aku masih termenung dalam diam, mencoba untuk merumuskan kata-demi kata yang telah ia ucapkan. Kemudian aku menoleh ke samping, ada sosok lain yang berdiri tak jauh dariku hampir tepat di belakangku. Ia tersenyum padaku, senyum yang sama seperti yang biasanya kulakukan.
“Lepaskan sosok itu.. Lepaskan dia, dia hanya akan membelenggumu..” Ia kembali berkata kali ini dengan suara yang lebih lembut. “Lepaskan ketakutanmu, lepaskan masa lalumu, lepaskan semua topeng yang membuatmu melupakanku.” Kini ia tersenyum, manis sekali. Tanpa sadar akupun ikut tersenyum bersamanya.

Beberapa menit berlalu. Namun, sosok itu semakin memudar. Dan kini, yang dapat kulihat hanya sepasang cermin besar yang berdiri di depanku, satu dari mereka pecah berserakan dengan bercak darah yang menetes dari tangan kananku.

Advertisements

Tunjukkan gigimu.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s