RSBI DI HAPUS? SO WHAT!


Penghapusan-RSBI-di-Indonesia

Hmm.. buat postingan kali ini, gue pengen ngungkapin opini pribadi gue mengenai polemik diatas. Kali ini bukan nasib para pejabat dan bukan juga nasib para rakyat yang marak diberitakan di media massa. Tapi menyangkut bagaimana nasib pelajar. Kalian pasti sering denger berita di atas. Selain berita banjir di Jakarta yang kini juga tengah –membanjiri- berbagai stasiun TV baik nasional maupun swasta. Hehehe.. kali ini, postingan gue bukan membahas soal banjir, Jokowi, atau yang lainnya. Tapi, seperti judulnya, kali ini gue pengen banget bahas soal sekolah bertaraf RSBI.

Terdengar kabar bahwa kini, pemerintah menghapuskan program sekolah-sekolah bertaraf RSBI alias Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. As expected, segala kebijakan yang dibuat pemerintah, pasti akan menimbulkan pro dan kontra. Lo lo pada gak mungkin kan, maksain pendapat kalian buat disetujui setiap kepala se Indonesia? Mana enak lo liat wajah yang sama semua. Kembar-kembar gitu. Bikin pusing kan? Hahaha. Demikian halnya terjadi dengan kasus yang satu ini.

Gue sendiri udah ngobserv *ceile bahasa gue* gak usah dari yang jauh-jauh, dari temen-temen gue sendiri aja. Banyak dari mereka yang menyatakan diri mereka berada di pihak kontra. Gue pun gak menyalahkan, toh semua orang punya hak buat berpendapat, iya toh?

Nah, kali ini gue bukan mau bahas pendapat temen gue, guru gue, kepala sekolah gue, pak RT ataupun pihak Kemendiknas sendiri, melainkan pendapat GUE. Opini GUE! Yang berarti semua yang tertulis di bawah ini adalah menurut kacamata gue! Perlu di catat, KACAMATA GUE! *gue lupa naro dimana btw* #plak

Okeh, back to the topic. Kalo ditanya, gue setuju apa enggak. Gue jawab gue setubuh #eh maksud gue, gue SETUJUH, bahkan SEDELAPAN #loh. Nah, yang terpenting bukan perkara setuju atau gak setuju bukan? Melainkan alasan di balik pernyataan tersebut.

Nah, gue bakalan menguak alasan gue memilih berada di pihak pemerintah, alias pihak pro. Yang artinya gue bakalan berbeda kubu dari kebanyakan orang, atau bahkan yang berada di lingkungan gue sendiri.

Kemarin, gue sempet ikut seminar bertajuk ‘evaluasi diri dan sekolah.’ Yang di bawakan oleh kepala sekolah gue sendiri. Setelah sekian lama kabar itu memanas, barulah gue tau alasan pemerintah mencabut program itu dari sekolah-sekolah di Indonesia. You know what? Pemerintah tidak ingin lagi terjadi tembok deskriminasi yang –secara tidak sadar- di bangun di atara sekolah-sekolah terutama antara sekolah bertaraf nasional dan internasional.

Gue seketika langsung berteriak, WAW!! #lebay.

Kemudian kepala sekolah gue melanjutkan, “Pemerintah membedakan RSBI dan tidaknya itu hanya dari kucuran dana pembangunan dan biaya BOS yang diberikan pada masing-masing sekolah.”

Dan gue langsung bilang, “ooohh…”

Nah, yang bikin gue ngakak adalah, saat kepala sekolah gue bilang dia bersyukur karena sekolah gue bukan termasuk sekolah yang sombong. Terbukti, sekalipun sekolah gue adalah SMK terfavorit di kota gue, kota pahlawan. Tapi, sekolah gue gak pernah sekalipun memasang tulisan ‘RSBI’ di area sekolah. Padahal, sekolah gue tinggal selangkah lagi menuju ‘SBI.’

Karena, tanpa label RSBI atau SBI pun masyarakat bisa menilai, mana sekolah yang berkualitas dan enggak *bukan berarti gue bilang sekolah-sekolah lain enggak berkualaitas yaa* tapi sebenarnya label-label di atas memang –tanpa sengaja- tumbuh di antara kita dan menimbulkan kesenjangan sosial antara sekolah biasa dan RSBI.

Gue bukan bilang gak setuju dengan pendapat itu. Namun dari kaca mata gue sendiri, gue merasa pemerintah berhak melakukan itu semua, terlebih dengan alasan yang rasional.

Kualitas diri kita bukan ditentukan dari mana kita berasal, namun dari diri kita sendiri. Lho, kok bisa?

Nah, gue ambil contoh yang paling singkat aja ya guys…

Ini hanya perumpamaan, okay?

Bayangkan kalian bersekolah di sekolah biasa, tapi kalian punya prestasi dan kecerdasan melebihi anak-anak cerdas lainnya yang bersekolah di sekolah bertaraf RSBI. Namun, di mata masyarakat kalian di anggap –biasa saja- karena sekalipun kalian pintar, tapi kalian gak bersekolah di sekolah favorit (misalnya). Bagaimana perasaan kalian? Gelo!

Gue akui, gue emang bukan termasuk siswa yang pintar, cerdas atau jenius. Tapi gue mencoba melihat sesuatu dari semua sudut pandang yang ada. Dari kacamata yang berbeda.

Lo lo pada mungkin bisa teriak-teriak gak jelas karena kalian bersekolah di sekolah bertaraf RSBI tapi coba kalian bayangkan bagaimana perasaan mereka yang gak mendapat kesempatan seperti kalian?

Kita mungkin beruntung, kita dapat tinggal di lingkungan yang –terpandang- tapi, tidakkah kalian pernah sekalipun memikirkan bagaimana perasaan mereka yang tidak seberuntung kita namun memiliki semangat yang lebih besar dari kita?

Seharusnya predikat-predikat tersebut membuat kita menjadi semakin bersemangat untuk maju, bukan justru semakin malas karena –toh gimana-gimana juga gue tetep dipandang masyarakat, sekalipun nilai gue gak bagus-bagus amat- BUKAN ITU!

Kita bukan ditentukan oleh lingkungan kita, tapi ‘SIAPA KITA SEBENARNYA?’

Nah, ada satu perumpamaan lagi.

Kalian pasti kerap kali mengeluh, kenapa gue gak di lahirkan di Korea aja, pasti gue bisa ketemu SNSD, atau pasti gue secantik mereka, punya kulit seputih mereka. Atau kenapa gue gak lahir di Amerika, karena sekalipun gue gelandangan, kalo setelah itu gue hidup di Indonesia gue tetep terpandang dan gue masih laku dijual (setidaknya gue punya kemampuan bahasa inggris yang laku di pasaran). Pernah kan? Padahal, di Indonesia sendiri kalian menjabat sebagai ketua OSIS, punya semangat juang yang tinggi, dan lain seterusnya dan yang pasti –melebihi gelandangan di AS-

Mungkin seperti itulah yang dirasakan para murid yang berasal dari sekolah non RSBI. Mereka terus saja menyalahkan lingkungan mereka, padahal sadar atau tidak, potensi yang dimiliki mereka bahkan mungkin lebih besar dari siswa-siswi RSBI tersebut.

“Ya, setiap anak memang berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Seharusnya, tak ada satupun anak Indonesia yang bersekolah di kelas darurat, di sekolah kolong jembatan, di sekolah yang tak layak. Siapapun itu, baik anak pejabat, anak presiden hingga anak pemulung sekalipun berhak mendapatkan pendidikan yang layak,” tutur Sinta Almira dari Program Studi Bimbingan Konseling UNP.

Setuju banget nih, sama kata kakak di atas… tanpa kita sadari, hadirnya RSBI telah membuat sebuah kasta pembeda antara anak-anak yang berasal dari keluarga kaya-raya dengan anak yang berasal dari keluarga tidak mampu. 😉

Seperti yang sebelumnya gue tulis, semua opini di atas adalah menurut sudut pandang saya. Seorang pelajar SMK biasa yang kebetulan mendapat ‘keberuntungan’ karena bisa bersekolah di sekolah terfavorit di kotanya.

Kalian mungkin bisa bilang gue aneh karena gue berbeda, tapi menurut gue merekalah yang aneh karena mereka semua sama :p

Sama aja pikirannya ya gitu-gitu aja alias ikut-ikutan aja. BE DIFFERENT and berani BEDA! Perbedaan itu indah, termasuk perbedaan pendapat. Karena perbedaan itulah yang nantinya akan membuat hidup kita semakin berwarna #plak

Mungkin quotes dari Mahatma Gandhi ini akan sedikit berguna.

“Janganlah kau mau dipengaruhi oleh kenyataan dan keadaan tapi pengaruhilah kenyataan dan keadaan itu, niscaya akan kau temukan arti kebahagiaan hidup ini.”

Yang artinya, kurang lebih adalah seperti ini… Kita takkan pernah bisa maju jika kita berubah karena lingkungan kita, namun akan lebih baik jika kita dapat merubah lingkungan kita. :p

Segitu saja, maaf jika ada kata-kata yang salah atau kurang berkenan. Ketahuilah bahwa saya juga manusia biasa yang tak luput dari dosa. Jika kalian ingin menambahkan, atau memiliki pendapat lain, monggo di share di kotak komentar.

Sekian dari Sasya, semoga bermanfaat… 🙂

Advertisements

9 thoughts on “RSBI DI HAPUS? SO WHAT!

  1. Hem..gimana yah..bener si..tapi jujur yah, sampai sekarang gue masih bangga loh kalo di tanya dulu sekolah di mana gue pasti ga segen nyebut tuh nama sekolah..hehe entah semacam gengsi atau gimana, soalnya jaman gue sekolah suka nggilang2 dan cuman aktif di organisasi2 hehe..

    Hem..bener si, buat ngebuka kesempatan ama yg lebih baik yg mungkin ga mampu, tp gelar itu kan bukan di tentuin secara sembarangan makne, itu di liat dari fasilitas, guru, cara belajar dan mengajar..dll

    Coba deh km bayangin kalo seandainya, sekolah2 bersetandar itu jd berfikiran sempit”toh semua di sama ratain, ngapain kita musti inilah itulah”trus fasilitas kita di cabut..(lebay ga mungkin kan uang bicara wkwk #plak)

    Tau ah no komen gue, soalnya ini bukan soal, ini bukan cuman tentang perikat sekolah ini itu, tp juga kesanggupan tuh sekolah buat ngasi yg terbaik buat anak didiknya..(sumpah gue komen apaT_T)

    • gue bangga say… sampe sekarang pun gue bangga sekalipun gue gak aktif di organisasi dan semacamnya :p gue bukan tipe2 orang yang suka nyari ketenaran semata 😀 *piss*

      yang gue maksud disni bukan fasilitas saayy.. tapi deskriminasi antar sekolah.. kesenjangan sosial yang terjadi… semua orang emang pengen dapet yang terbaik, tapi bukan berarti semua orang gak berHAK dapet yang terbaik, kan? hehe.. itu maksud gue saaayy..

    • gue bangga say… sampe sekarang pun gue bangga sekalipun gue gak aktif di organisasi dan semacamnya :p gue bukan tipe2 orang yang suka nyari ketenaran semata 😀 *piss*

      yang gue maksud disni bukan fasilitas saayy.. tapi deskriminasi antar sekolah.. kesenjangan sosial yang terjadi… semua orang emang pengen dapet yang terbaik, tapi bukan berarti semua orang gak berHAK dapet yang terbaik, kan? hehe.. itu maksud gue saaayy..

  2. wahh sekolah lo, low profile ya haha. RSBI lebih tepat jadi Rintihan Sekolah Bertarif Internasional haha sekolah gue ada tulisannya di tembok dan itu langsung dicabut tulisan rsbi nya haha ninggalin bekas-bekas alay hahaha #curhatdikit malah ada sekolah lain di bet nya ada tulisan rsbi, nahh itu begimana? wakwak >.< sebenernya sih secara pribadi gue ga terlalu permasalahin, tapi gue sedikit garela karena gue masuk sekolah itu karena rsbi haha tapi mungkin kalo gue sekolah di reguler yaa mungkin gue rela-rela aja mhehe intinya mah dimanapun kita sekolah, itu tergantung orangnya sendiri, 'emas ga akan pernah berubah/luntur sekalipun ditaruh di lumpur' <— ini apaaa??!! -__-#skip rsbi di cabut tetep aja belajar sampe sore-_- phew..

  3. apapun predikat sekolah’x tergantung pelajar itu sendiri.
    klo ak sih dulu blm knal sama rsbi ato sbi.jd yach menurutku sekolah dmn” jg tergantung kita’x.
    mau sekolah d sma terpaporit ato mungkin mendapat predikat terbaik.klo yg males ya tetep aja mls.

    syukuri yg kta dpt skrang.manfaatkan semua fasilitas sekolah selama kta bisa,selama fasilitas itu ada

  4. Hahahahaha pas banget lo bahas ginian sya,, gue baru baca judulnya udah ketawa2 gaje #loh Di sekolah gue heboh banget dah gara2 masalah ini, sampe2 orang tua pun ga kalah heboh dari murid2nya -__-

    #Curhatdikityee Kebetulan sekolah gue tuh satu-satunya sekolah RSBI di kota gue *maklum kota kecil* dan otomatis dengan adanya pencabutan RSBI ini mengundang desas desus dari sekolah2 lain yang non-RSBI maupun di kalangan masyarakat awam. dan yang gue heranin yang banyak kontra itu malah orang tua murid dan masyarakat, ternyata selama ini tuh yang bangga itu kebanyakan orang tua muridnya, banyak yang beranggapan kalo anaknya bisa masuk sekolah RSBI itu hebat trus di banding-bandingin ama anak2 orang lain yang sekolah di sekolah non-RSBI, padahal sebenernya sama aja =,=

    Gue justru setuju banget pemerintah ngambil kebijakan kayak gini, seneeeng banget, akhirnya label laknat itu terlepas juga ^o^,, gue males di sanjung2 mulu #eaa #belagu di bilang hebat cuma gara2 bisa sekolah di sekolah RSBI, apalagi kalo ketemu ama temen2 nyokap, emak gue pasti langsung ngebanding2in anaknya ama anak temennya, ujung2nya pasti ngebanggain RSBI, bangga bisa nyekolahin anaknya di sekolah RSBI, bangga??? Sedangkan gue, gue tiap kali digituin yang ada malu, dan ngerasa ga enak sama mereka yang ga sekola di sekolah RSBI. apanya yang harus dibanggain sih? pelajarannya sama, semua sama, bahkan nilai gue ga bagus2 amat -_-, bisa jadi mereka yang dibanding2in ama gue itu nilainya jauh lebih bagus dari gue, gaah *face-palm* -__-

    biasanya ya kalo orang2 nanyain nilai rapor gue pasti responnya sama semua “yah gapapalah ga masuk sepuluh besar, di sekolah RSBI kan standarnya beda dari sekolah biasa, muridnya juga pasti pintar2 semua, banyak saingan” uugh i heard that a LOT! -_-

    itu tuh yang bikin manusia ga maju2, cuma berpatokan dari label,,, haha gue jadi curhat kepanjangan,, udahan deh, pegel nih ngetiknya, babaay~ 😀

  5. Kak sasya,sekolah aku juga rsbi *malah sbi* cm ampe sekarang blom di ada pengumuman resmi dari kepala sekolah soal pembubarannya,jadi di smp aku skrg status nya msh ttp sbi.Jujur,di sekolah sbi tuh bener bener dehh tugas sama ulangannya selalu bikin seteres -_- Kalopun rsbi,tp kemampuan bhs inggris yang dimiliki guru sbi sangat minim ._. Bahkan cara mengajar nya pun belum bisa dibilang layak nya guru sbi *syukur lah masih sebagian* .Di sekolah sbi itu tiap dua minggu sekali bakal diadain shadow teacher *guru mapel yang dari luar negeri* pelajarannya ada bio,fisika,mtk,dan bhs inggris.hmmmm,mungkin dari luar nya bisa dibilang keren,cuma jujur aja,program shadow itu bener bener ngeganggu,krn apa yang di sampein sama guru shadow itu materi nya udah ketinggalan jauh sama yang di sampein oleh guru mapel asli kita.Nahh,alesan pemerintah membubarkan sbi jg krn nilai UN nya sekolah SSN lebih tinggi drpd nilai UN nya sekolah sbi.So,gmn pendapat kakak?? ._.V

  6. gue jg bingung setuju pa gak, yg jelas gue ga rela aja kalo RSBI dihapus. Gue masuk smp RSBI, keluar jadi regular. 😦 trs yg masalah diskriminasi itu, kalo disekolah gue, ada 20% khusus anak tidak mampu dan itu beasiswa penuh. Gue juga ga mau nyombong disini, skolah RSBI bayar kan juga demi kelengkapan fasilitas.. Kalo RSBI dihapus, kerja sama dgn sekolah lain diluar negri dibatalin dong 😦 yg bikin gue kecewa cuma satu, kenapa MK ngambil keputusannya pas tengah taun ajaran gini, kenapa ga akhir taun ajaran….
    Maaf kalo bahasa gue ga enak. Tp cuma mau ngasih tau opini gue aja 🙂

Tunjukkan gigimu.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s